Lifestyle / Komunitas
Minggu, 21 Juni 2026 | 07:08 WIB
Komunitas Klabu Bacaman (Baca bareng di Taman) Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan (18/6/26)

Suara.com - Sebuah gerakan sosial tak selalu dimulai dari langkah besar. Berangkat dari keluh kesah dua ibu rumah tangga di lingkungan Sekolah Tetum Bunaya, Pipit Dwia dan Sri Dewi Susanty (Santy) membangun komunitas literasi yang kini aktif memanfaatkan taman kota di Jagakarsa sebagai ruang membaca dan bertukar cerita.

Melihat banyaknya ruang terbuka hijau di Jagakarsa, kegiatan yang awalnya dilakukan dalam lingkup kecil itu kemudian berkembang dan dibuka untuk masyarakat umum.

“Karena di Jagakarsa banyak taman, jadi kami manfaatkan ruang terbuka hijau yang ada. Dari taman ke taman, akhirnya kami buka juga untuk umum supaya lebih banyak ibu-ibu yang saling menyemangati untuk membaca lagi,” ujar Santy.

Suasana Taman Ketika Bacaman

Komunitas Klabu Bacaman (Baca bareng di Taman) Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan (18/6/26)

Pagi itu, Kamis (18/6/2026), suasana di Taman Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, tampak berbeda. Di tengah anak-anak yang menggambar dan bermain di atas rumput, sekelompok ibu muda duduk melingkar sambil memegang buku.

Lewat komunitas Klabu, kegiatan membaca dipadukan dengan pengasuhan anak di ruang terbuka. Taman kota yang biasanya menjadi tempat bermain disulap menjadi ruang belajar, berdiskusi, dan saling bertukar cerita.

Usai sesi membaca senyap, para peserta melanjutkan kegiatan dengan diskusi kelompok. Setiap ibu membagikan isi buku yang dibaca, membicarakan sudut pandang baru, hingga saling bertukar pengalaman.

Perjalanan Klabu dari perkumpulan kecil hingga mampu menggerakkan ibu-ibu di ruang publik bahkan di luar dugaan anggotanya sendiri. Melly, salah satu anggota yang mengikuti komunitas ini sejak awal, mengaku tak menyangka perkembangannya.

“Saya sendiri enggak sangka kalau Klabu ini akan sebesar ini. Baru setahun ikut, tapi kegiatannya makin berkembang dan ada value yang benar-benar positif,” ujar Melly.

Bagi Klabu, komunitas ini tak ingin berhenti sebagai ruang pertemuan sementara. Pipit, inisiator Klabu, berharap gerakan ini tetap hidup meski anak-anak para anggotanya sudah tidak lagi bersekolah.

Baca Juga: Akses Keuangan Meningkat, Tapi Literasi Masih Tertinggal: Tantangan bagi Anak Muda dan Disabilitas

“Harapannya tidak terbatas ketika anak-anaknya masih sekolah saja, tapi setelah lulus tetap bisa lanjut komunitasnya,” kata Pipit.

Klabu menunjukkan bahwa memperluas akses literasi tidak selalu membutuhkan fasilitas besar. Dengan menghidupkan taman kota dan menjaga konsistensi kegiatan, ruang publik dapat menjadi tempat tumbuhnya budaya membaca yang lebih dekat dan inklusif.

Penulis: Vicka Rumanti

Load More