Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 03 Juli 2026 | 12:50 WIB
Ilustrasi reboisasi. (Pexels/Mihtiander)

Suara.com - Menanam kembali hutan atau reboisasi selama ini dianggap sebagai salah satu solusi utama untuk mengatasi perubahan iklim. Selain mampu menyerap karbon dioksida (CO2), hutan juga berperan penting dalam menjaga siklus air. Di Indonesia, upaya rehabilitasi hutan melalui program reboisasi terus digencarkan. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan (28/6/2026), dalam satu dekade terakhir rata-rata luas Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) mencapai sekitar 230 ribu hektare per tahun.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampak reboisasi terhadap ketersediaan air ternyata tidak selalu sama. Hasilnya sangat bergantung pada kondisi iklim di masa depan.

Reboisasi Tak Selalu Menambah Cadangan Air 

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Institute of Atmospheric Physics di Chinese Academy of Sciences menggunakan simulasi sistem Bumi terbaru untuk membandingkan dampak reboisasi berskala besar pada dua skenario pemanasan global yang berbeda. Skenario pertama menggambarkan dunia dengan tingkat pemanasan yang lebih rendah, sedangkan skenario kedua menggambarkan kondisi dengan emisi tinggi dan pemanasan yang lebih ekstrem.

Para peneliti memfokuskan analisis pada ketersediaan air di daratan, yakni keseimbangan antara curah hujan dan penguapan. Faktor ini sangat penting karena menentukan pasokan air bagi ekosistem, pertanian, hingga kebutuhan manusia. 

Dampaknya Berbeda pada Setiap Skenario Iklim

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada skenario pemanasan rendah, reboisasi justru sedikit meningkatkan jumlah air yang tersedia secara global. Namun, manfaat tersebut tidak dirasakan secara merata. Wilayah yang sejak awal sudah basah menjadi semakin kaya air, sementara daerah yang kering justru semakin tertinggal.

Sebaliknya, pada skenario pemanasan tinggi, reboisasi menyebabkan penurunan jumlah air yang tersedia secara keseluruhan. Meski demikian, distribusi air menjadi lebih merata antara wilayah basah dan kering. Dengan kata lain, kesenjangan ketersediaan air antarwilayah menjadi tidak terlalu mencolok.

Peneliti utama, Dr. Tao Tang, menjelaskan bahwa penanaman pohon dalam skala dan lokasi yang sama dapat menghasilkan dampak yang hampir berlawanan hanya karena perbedaan kondisi iklim.

Baca Juga: PASplus, Program Kolaborasi untuk Beri Nilai Tambah bagi Penumpang

"Pohon-pohon yang sama, yang ditanam dalam skala yang sama, menghasilkan hasil yang hampir berlawanan tergantung pada iklim latar belakang," ujar Tao.

Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas reboisasi tidak bisa dilepaskan dari proyeksi perubahan iklim di masa depan.

Tim peneliti juga menghitung ketersediaan air per kapita. Mereka menemukan bahwa perbedaan jumlah penduduk turut memperkuat dampak tersebut. Dalam skenario pemanasan tinggi, populasi dunia diperkirakan jauh lebih besar sehingga penurunan pasokan air per orang, terutama di wilayah basah, menjadi lebih signifikan.

Strategi Reboisasi Perlu Disesuaikan dengan Proyeksi Iklim

Para peneliti menemukan bahwa perbedaan dampak tersebut terutama disebabkan oleh perubahan sirkulasi atmosfer yang memengaruhi pergerakan uap air. Namun, hingga kini para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami mengapa respons sirkulasi atmosfer bisa berbeda pada setiap tingkat pemanasan global. Karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

Sebagai penutup, salah satu penulis penelitian, Dr. Junji Cao, menekankan bahwa program reboisasi di masa depan tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang sama di semua kondisi. Menurutnya, perencanaan harus mempertimbangkan lokasi, waktu pelaksanaan, serta proyeksi iklim agar manfaatnya terhadap sumber daya air dapat dimaksimalkan.

"Para pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan tidak hanya berapa banyak pohon yang harus ditanam, tetapi juga di mana dan kapan, karena upaya reboisasi yang sama mungkin bermanfaat bagi sumber daya air di masa depan dengan emisi rendah tetapi akan menguranginya di dunia yang lebih panas," ucap Junji.

Load More