Suara.com - Setiap tahun, jutaan ton buah dan sayuran terbuang sebelum sempat dikonsumsi. Sebagian membusuk terlalu cepat, sebagian lagi dibuang karena kekhawatiran terhadap residu pestisida yang menempel di permukaannya.
Dua persoalan itu, keamanan pangan dan limbah makanan, kini menjadi tantangan besar bagi sistem pangan global.
Berangkat dari kekhawatiran tersebut, tim peneliti dari University of British Columbia mengembangkan cairan pencuci buah berbahan alami yang tidak hanya membantu mengurangi residu pestisida, tetapi juga memperpanjang masa simpan buah sehingga berpotensi menekan pemborosan pangan.
Penulis senior penelitian sekaligus asisten profesor di Fakultas Sistem Pertanian dan Pangan UBC, Dr. Tianxi Yang, mengatakan ide penelitian ini muncul dari kebiasaan putra kecilnya yang gemar mengonsumsi blueberry.
“Tujuan kami adalah menciptakan cairan pencuci yang sederhana, aman, dan terjangkau yang meningkatkan keamanan dan kualitas pangan,” ujar Dr. Yang.
“Orang tidak seharusnya harus memilih antara mengonsumsi hasil pertanian segar dan mengkhawatirkan apa yang ada di dalamnya,” tambahnya.
Terbuat dari bahan alami
Dalam penelitian berjudul Dual-Function Metal–Phenolic Network-Capped Starch Nanoparticles for Postharvest Pesticide Removal and Produce Preservation, para peneliti menggunakan nanopartikel pati dari jagung dan kentang yang dipadukan dengan asam tanat—senyawa alami yang banyak ditemukan pada teh dan anggur—serta zat besi.
Kombinasi tersebut membentuk struktur yang mampu menangkap residu pestisida pada permukaan buah sehingga lebih mudah dihilangkan saat pencucian.
Dalam uji coba pada apel, cairan ini mampu menghilangkan sekitar 86–96 persen residu tiga jenis pestisida. Sebagai perbandingan, pencucian dengan air mengalir, baking soda, atau pati biasa hanya mampu menghilangkan kurang dari setengah residu yang menempel.
Menjadi “kulit kedua” untuk buah
Baca Juga: Tak Sekadar Tekan Emisi: Bagaimana Brand F&B Ini Kurangi Limbah Industri?
Keunggulan lain dari inovasi ini adalah kemampuannya membentuk lapisan tipis yang dapat dimakan, mudah terurai, dan aman dikonsumsi.
Lapisan tersebut bekerja layaknya “kulit kedua” yang melindungi buah tanpa menghambat pertukaran udara. Hasilnya, buah kehilangan air lebih lambat, proses pencokelatan berkurang, dan masa simpannya menjadi lebih panjang.
“Lapisan tersebut bertindak seperti kulit kedua yang memungkinkan udara masuk. Ukuran kualitas makanan seperti keasaman dan gula larut juga tetap lebih tinggi pada buah yang dilapisi,” jelas Dr. Yang.
Lapisan ini juga memiliki sifat antimikroba yang membantu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab pembusukan.
Mengurangi limbah pangan
Menurut para peneliti, manfaat terbesar teknologi ini mungkin bukan hanya pada keamanan pangan, melainkan pada potensinya mengurangi limbah makanan.
Buah yang lebih tahan lama berarti lebih sedikit produk yang dibuang selama distribusi, penyimpanan, maupun di rumah tangga. Dalam konteks perubahan iklim, pengurangan limbah pangan dinilai penting karena makanan yang terbuang juga berarti pemborosan air, energi, lahan, dan emisi yang dihasilkan selama proses produksinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan