- Letusan dahsyat Gunung Krakatau tahun 1883 di Selat Sunda menghancurkan gunung dan menyisakan kaldera raksasa yang dalam.
- Anak Krakatau muncul ke permukaan pada 20 Januari 1929 akibat aktivitas magma yang terus berlanjut di zona subduksi.
- Gunung ini tumbuh pesat melalui penumpukan material vulkanik serta menjadi laboratorium alam untuk mempelajari proses siklus gunung api.
Suara.com - Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu fenomena geologi paling menarik di Indonesia. Muncul dari reruntuhan Gunung Krakatau yang legendaris setelah letusan dahsyat tahun 1883, Anak Krakatau bukan sekadar pulau baru, melainkan bukti bahwa aktivitas vulkanik di Selat Sunda masih sangat hidup.
Pertanyaan “kenapa Anak Krakatau bisa muncul?” mengajak kita menyelami proses tektonik, siklus gunung api, dan kekuatan alam yang tak pernah berhenti.
Latar Belakang Letusan Krakatau 1883
Pada 26-27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan luar biasa. Letusan ini termasuk salah satu yang terdahsyat dalam sejarah modern, dengan indeks eksplosivitas vulkanik (VEI) 6.
Krakatau Purba yang tingginya mencapai sekitar 800 meter lebih hancur hampir separuh. Ledakan tersebut menghasilkan suara yang terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya, tsunami setinggi puluhan meter yang menewaskan lebih dari 36.000 orang, serta abu vulkanik yang menutupi langit hingga menyebabkan “tahun tanpa musim panas” di belahan bumi utara.
Akibat letusan itu, terbentuklah kaldera besar di tengah Selat Sunda. Kaldera ini adalah cekungan raksasa yang dulunya adalah tubuh gunung, kini terisi air laut dengan kedalaman rata-rata sekitar 200-300 meter.
Banyak yang mengira aktivitas vulkanik Krakatau telah berakhir. Namun, justru di sinilah benih Anak Krakatau mulai tumbuh.
Proses Kemunculan Anak Krakatau
Sekitar 44 tahun kemudian, tepatnya pada akhir 1927, aktivitas vulkanik kembali muncul di pusat kaldera. Awalnya berupa semburan air laut dan uap, kemudian material vulkanik mulai menumpuk di dasar laut.
Pada 11 Juni 1927 hingga awal 1929, gunung baru ini secara perlahan muncul ke permukaan. Lahir secara resmi pada 20 Januari 1929, ia dinamakan Anak Krakatau atau “Child of Krakatoa”.
Kenapa bisa muncul? Penyebab utamanya adalah aktivitas magma yang masih aktif di bawah kaldera. Meski letusan 1883 telah mengosongkan sebagian besar ruang magma dangkal, pasokan magma dari kedalaman terus berlanjut.
Baca Juga: Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
Wilayah Selat Sunda terletak pada zona subduksi lempeng Australia yang menunjam di bawah lempeng Sunda (Eurasia). Proses subduksi ini menyebabkan batuan lempeng meleleh menjadi magma, yang kemudian naik ke permukaan melalui zona lemah di kaldera.
Anak Krakatau tumbuh sangat cepat. Rata-rata pertumbuhannya sekitar 4-7 meter per tahun, bahkan pernah mencapai 13 cm per minggu pada dekade 1950-an.
Hingga awal 2018, tingginya mencapai lebih dari 300 meter di atas permukaan laut dengan volume tubuh mencapai sekitar 5,5 km³.
Material yang dikeluarkan berupa lava, abu, dan bom vulkanik terus menumpuk, membangun kerucut stratovolcano baru.
Faktor Geologi Pendukung
Selain subduksi, ada beberapa faktor lain:
1. Lokasi di persilangan Jawa-Sumatra
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan