- Letusan dahsyat Gunung Krakatau tahun 1883 di Selat Sunda menghancurkan gunung dan menyisakan kaldera raksasa yang dalam.
- Anak Krakatau muncul ke permukaan pada 20 Januari 1929 akibat aktivitas magma yang terus berlanjut di zona subduksi.
- Gunung ini tumbuh pesat melalui penumpukan material vulkanik serta menjadi laboratorium alam untuk mempelajari proses siklus gunung api.
Anak Krakatau berada di zona tektonik aktif dengan multiple sumber magma. Beberapa penelitian menunjukkan adanya dua sumber magma yang relatif dangkal, sehingga pasokan material lebih stabil dan pertumbuhan lebih signifikan.
2. Siklus pembentukan dan penghancuran
Sejarah Krakatau menunjukkan pola berulang. Krakatau Purba pernah meletus besar sekitar abad ke-6 M (535-536), membentuk kaldera, lalu muncul gunung baru. Anak Krakatau adalah kelanjutan siklus ini.
3. Komposisi magma
Awalnya magma basa (basaltik), kemudian berevolusi menjadi andesit, yang mendukung pembentukan kerucut stabil sekaligus erupsi eksplosif sesekali.
Pada Desember 2018, Anak Krakatau mengalami longsor flank yang memicu tsunami Selat Sunda. Meski tubuhnya menyusut sementara, aktivitas vulkanik terus berlanjut dan gunung ini kembali tumbuh.
4. Pelajaran dan Potensi Masa Depan
Anak Krakatau adalah laboratorium alam sempurna bagi ilmuwan untuk mempelajari suksesi ekosistem, pertumbuhan gunung api, dan bahaya vulkanik. Vegetasi mulai tumbuh di lerengnya, meski sering terganggu erupsi.
Bagi masyarakat sekitar, gunung ini menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di Ring of Fire. Meski letusan besar seperti 1883 diperkirakan masih lama, potensi erupsi kecil hingga sedang dan tsunami vulkanogenik tetap ada.
Baca Juga: Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
Fenomena Anak Krakatau membuktikan bahwa Bumi adalah planet yang dinamis. Apa yang hancur bisa lahir kembali dalam bentuk baru. Magma yang tak pernah berhenti naik, ditambah tekanan tektonik, menjadikan Anak Krakatau terus tumbuh dan aktif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan