Lifestyle / Female
Selasa, 14 Juli 2026 | 22:19 WIB
Seniman Mandy CJ menggelar pameran tunggal bertajuk The Way Back. (Dok. Ist)
Baca 10 detik
  • Seniman Mandy CJ menggelar pameran tunggal bertajuk The Way Back di Galeri C Project, Jakarta, hingga 15 Agustus 2026.
  • Pameran menampilkan 16 karya visual yang merefleksikan nilai universal keberagaman iman sebagai upaya mendorong dialog inklusif di masyarakat.
  • Kegiatan ini menyertakan misi sosial berupa pelelangan karya seni untuk pembangunan masjid di Aceh melalui Yayasan Pemuda Peduli.

Suara.com - Di tengah meningkatnya polarisasi dan perbedaan pandangan di masyarakat, seni kerap menjadi bahasa yang mampu menjembatani berbagai sekat. Melalui karya visual, pertanyaan tentang iman, identitas, hingga toleransi dapat disampaikan tanpa menghakimi, melainkan mengajak orang untuk berdialog.

Gagasan itulah yang diangkat seniman visual Mandy CJ dalam pameran tunggal perdananya bertajuk The Way Back yang berlangsung di Galeri C Project by Museum of Toys (MOT), Menteng, Jakarta Pusat, hingga 15 Agustus 2026.

Dikuratori oleh Doni Ahmad, pameran ini menghadirkan 16 karya yang lahir dari perjalanan spiritual Mandy selama beberapa tahun terakhir. Berbeda dengan karya-karya awalnya yang banyak dipenuhi kemarahan terhadap standar ganda dalam narasi keagamaan, kini ia memilih menghadirkan ruang refleksi yang lebih inklusif.

"Dulu saya banyak mengekspresikan kemarahan, terutama terhadap standar ganda dalam narasi keagamaan. Tapi seiring waktu, saya melihat perjalanan spiritual bukan lagi tentang marah, melainkan belajar memahami," ujar Mandy.

Melalui lukisan-lukisannya, ia memadukan simbol-simbol dari Islam, Kristen, Buddha, hingga berbagai tradisi spiritual lain. Simbol tersebut tidak dimaksudkan untuk membandingkan agama, melainkan menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti kasih sayang, empati, dan kerendahan hati merupakan bahasa universal yang dapat ditemukan dalam berbagai keyakinan.

Bagi Mandy, karya-karya tersebut menjadi catatan perjalanan batin yang terus berkembang.

"Saya melihat keindahan dari setiap agama dan mencoba mengolahnya menjadi bagian dari spiritualitas saya sendiri. Ini bukan lagi tentang kemarahan, tetapi perjalanan ke dalam diri," katanya.

Kurator pameran, Doni Ahmad, menilai The Way Back mengajak publik memahami bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang statis. Seseorang bisa saja mempertanyakan nilai-nilai yang diterimanya sejak kecil, namun proses itu tidak selalu berujung pada penolakan terhadap agama.

"Kadang ketika kita terus mencari tahu nilai-nilai di luar diri kita, pada akhirnya justru menemukan definisi baru tentang kepercayaan yang dulu kita miliki," ujar Doni.

Baca Juga: Bisnis Konstruksi Menggeliat, Produk Terbaik Hadir dalam IndoBuildTech 2026

Menurutnya, proses tersebut ibarat perjalanan melingkar. Seseorang kembali ke titik awal, tetapi dengan cara pandang yang lebih matang, lebih terbuka, dan lebih toleran.

Sebanyak 16 karya yang dipamerkan dibuat menggunakan kombinasi medium spray paint, akrilik, dan mixed media. Sebagian merupakan hasil eksplorasi Mandy sejak 2023, sementara karya-karya terbaru mulai dikerjakan sejak akhir 2025.

Pameran ini juga menghadirkan sejumlah kolaborasi. Salah satunya bersama influencer Tasya Kissty yang mengangkat tema spiritualitas Islam melalui interpretasi visual Surah Ad-Dhuha. Mandy juga menggandeng ahli kaligrafi Wildan F. Akbar untuk menghadirkan kaligrafi yang menyatu dengan komposisi karya.

Tak hanya menjadi ruang apresiasi seni, The Way Back juga membawa misi sosial. Pada 1 Agustus mendatang akan digelar Live Painting & Auction, di mana hasil pelelangan dua karya kolaborasi akan disumbangkan untuk pembangunan dan pemulihan masjid di Aceh melalui Yayasan Pemuda Peduli.

Sepanjang Agustus, pengunjung juga dapat mengikuti sesi live painting hingga workshop melukis bersama Mandy.

Lebih dari sekadar pameran seni rupa, The Way Back menawarkan ruang kontemplasi tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Di balik beragam simbol keagamaan yang hadir dalam setiap kanvas, Mandy ingin menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus melahirkan jarak, melainkan bisa menjadi titik temu melalui nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Pameran The Way Back dapat dikunjungi secara gratis setiap Selasa hingga Minggu pukul 13.00-19.00 WIB di C Project by Museum of Toys (MOT), Wisma Geha, Menteng, Jakarta Pusat.

Load More