- Universitas Surrey melibatkan 500 siswa sekolah dasar di Inggris dalam program Heat-Cool menggunakan kamera termal.
- Siswa mendeteksi titik panas sekolah dan menyarankan solusi infrastruktur hijau untuk menurunkan suhu lingkungan.
- Area bervegetasi terbukti memiliki suhu satu hingga tiga derajat lebih rendah serta meningkatkan pemahaman siswa.
Suara.com - Gelombang panas yang semakin sering terjadi membuat banyak sekolah mulai menghadapi tantangan baru. Ruang kelas, halaman, hingga lapangan yang minim pepohonan dapat menjadi jauh lebih panas dan mengganggu aktivitas belajar siswa.
Di Inggris, sekelompok peneliti mencoba pendekatan yang berbeda. Alih-alih hanya mengandalkan orang dewasa, mereka melibatkan anak-anak sekolah dasar untuk mencari tahu bagian mana dari lingkungan sekolah yang paling panas dan bagaimana cara membuatnya lebih sejuk.
Program bertajuk Heat-Cool yang dikembangkan oleh peneliti Universitas Surrey mengajak lebih dari 500 siswa dari tujuh sekolah di wilayah Inggris Tenggara menggunakan kamera termal genggam untuk memetakan suhu di lingkungan sekolah.
Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Communications menunjukkan anak-anak berusia sembilan tahun pun mampu menggunakan teknologi tersebut untuk mengidentifikasi titik-titik yang menyerap panas berlebih.
Selama lokakarya yang berlangsung sekitar dua jam, para siswa memotret berbagai area di sekolah menggunakan kamera termal. Mereka kemudian membandingkan suhu permukaan di setiap lokasi dan mendiskusikan solusi yang dinilai paling sesuai untuk mengurangi panas.
Beberapa usulan yang muncul antara lain penambahan atap hijau (green roof), taman resapan air, kolam, hingga area teduh yang dipenuhi pepohonan.
Profesor Prashant Kumar dari Global Center for Clean Air Research (GCARE) Universitas Surrey mengatakan anak-anak merupakan kelompok yang paling terdampak oleh suhu ekstrem, tetapi jarang dilibatkan dalam penyusunan solusi.
"Ketika Inggris mengalami musim panas yang semakin panas, kita perlu memikirkan cara baru untuk mempersiapkan sekolah menghadapi perubahan iklim. Anak-anak termasuk kelompok yang paling terdampak, tetapi mereka jarang dilibatkan dalam merancang solusinya," ujarnya.
Tim peneliti menganalisis lebih dari 1.700 citra termal yang diambil siswa, mencakup sekitar 4.300 objek di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Pamor SD Negeri di Ujung Tanduk: Krisis Siswa hingga Butuh Transformasi Pendidikan yang Mendesak
Hasilnya menunjukkan bahwa area yang memiliki vegetasi, unsur air, atau infrastruktur hijau umumnya memiliki suhu satu hingga tiga derajat Celsius lebih rendah dibandingkan area yang tidak memiliki elemen tersebut.
Selain menghasilkan ide-ide untuk membuat sekolah lebih nyaman, program ini juga dinilai meningkatkan pemahaman siswa mengenai perubahan iklim. Lebih dari delapan dari sepuluh peserta mampu mempertahankan atau meningkatkan pengetahuannya setelah mengikuti kegiatan.
Para peneliti menilai pendekatan yang menggabungkan pembelajaran di kelas, teknologi, dan citizen science ini berpotensi diterapkan lebih luas. Selain membantu sekolah beradaptasi terhadap suhu yang terus meningkat, cara tersebut juga memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berperan aktif dalam menghadapi dampak perubahan iklim di lingkungan mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Heran Febrie Adriansyah Dipanggil sebagai Tersangka, Pengacara: Baru Kali Ini Kami Lihat
- Nasi di Rice Cooker Cepat Bau dan Kuning? Begini 10 Cara Mengatasinya
Pilihan
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
Terkini
-
Islam & Lingkungan: Jangan Sampai Keserakahan Manusia Merusak Rumah Bersama
-
Penjualan Sepeda Motor Agustus 2026 Turun 6,22 Persen
-
5 Oven Mini Murah yang Hemat Listrik dan Praktis untuk Berbagai Kebutuhan
-
Detik-Detik 3 ASNDitembak, Rombongan Lebih Dulu Dicegat Pria Bawa Parang
-
Dukcapil DKI: WNA di Jakarta Wajib Ber-SKTT dan Alamatnya Terverifikasi
-
Kulit Mulai Kendur di Usia 35? Ini 5 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Jaga Kekenyalan Wajah
-
Virus Mematikan Serang Belanda, Sudah 3 Orang Meninggal Dunia Setelah Terinfeksi
-
Belum Penuhi Syarat Free Float, EPMT Berpeluang Di-delisting
-
Impor Minyak Rusia Tahap 2 Mulai Jalan, Bahlil: Demi Ketahanan Energi RI
-
Misi Promosi Liga 1 Dimulai! Kendal Tornado FC Bidik 3 Poin di Surabaya