- Menteri Moh Jumhur Hidayat menyatakan Indonesia harus memimpin pengembangan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
- Pemerintah menyiapkan skema pendanaan Biodiversity Credit untuk mendorong investasi swasta dalam perlindungan dan pemulihan ekosistem.
- KLH/BPLH, Bappenas, dan Pemerintah Jerman menyelenggarakan Biodiversity+ Business Forum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Suara.com - Saat mendengar istilah keanekaragaman hayati atau biodiversity, banyak orang langsung membayangkan hutan tropis, orangutan, atau taman nasional. Padahal, biodiversitas jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari daripada yang kita kira.
Secangkir kopi yang diminum setiap pagi, bumbu dapur yang membuat masakan terasa nikmat, kain katun yang dikenakan, hingga obat-obatan yang digunakan saat sakit, semuanya berasal dari kekayaan alam yang menjadi bagian dari keanekaragaman hayati.
Karena itulah, menjaga biodiversitas kini tidak lagi dipandang semata sebagai upaya konservasi lingkungan. Di berbagai negara, termasuk Indonesia, keanekaragaman hayati mulai menjadi fondasi ekonomi hijau (green economy) yang diyakini mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, mengatakan Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar sehingga harus menjadi pemain utama dalam ekonomi berbasis keanekaragaman hayati.
"Kita ingin orang Indonesia menjadi pelaku utama dalam ekonomi hijau yang sedang tumbuh ini. Jangan sampai kekayaan keanekaragaman hayati yang kita miliki justru ditentukan oleh pihak lain. Indonesia harus menjadi pemimpin dalam pengembangan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati," ujarnya.
Biodiversitas Dekat dengan Gaya Hidup
Selama ini gaya hidup berkelanjutan sering dikaitkan dengan membawa tumbler, mengurangi plastik sekali pakai, atau menggunakan kendaraan umum. Namun, menjaga keanekaragaman hayati juga merupakan bagian penting dari gaya hidup ramah lingkungan.
Misalnya, memilih produk pangan lokal membantu menjaga keberagaman tanaman pangan Indonesia. Membeli produk kecantikan yang menggunakan bahan baku berkelanjutan juga ikut mendukung pelestarian ekosistem.
Hal serupa berlaku pada industri fesyen. Bahan alami seperti kapas, bambu, hingga pewarna alami berasal dari sumber daya hayati yang harus dikelola secara bertanggung jawab agar tidak merusak lingkungan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Angkat Beban, Smart Training Ubah Cara Masyarakat Menjalani Gaya Hidup Sehat
Dengan kata lain, setiap keputusan belanja yang dilakukan masyarakat sebenarnya memiliki dampak terhadap keberlanjutan alam.
Peluang Ekonomi Baru
Tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, biodiversitas juga mulai membuka peluang ekonomi baru.
Pemerintah tengah menyiapkan berbagai instrumen pendanaan untuk mendorong investasi berbasis alam. Salah satunya melalui pengembangan Biodiversity Credit, yaitu mekanisme yang memungkinkan sektor swasta berinvestasi dalam perlindungan dan pemulihan ekosistem.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH, Rasio Ridho Sani, menjelaskan skema tersebut diharapkan mampu memperluas keterlibatan dunia usaha dalam menjaga keanekaragaman hayati.
"Pemerintah tengah menyiapkan skema pendanaan keanekaragaman hayati, termasuk Biodiversity Credit, untuk mendorong investasi swasta dalam perlindungan, pemulihan, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dengan tata kelola yang berintegritas, adil, dan akuntabel," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian