Lifestyle / Komunitas
Rabu, 29 Juli 2026 | 17:43 WIB
Sejumlah tokoh adat dari beberapa komunitas hadir di acara Manahumama, Jum'at (24/7) (dok. AMAN)

Suara.com - Di tengah derasnya pengaruh budaya modern, Masyarakat Adat Bantik di Sulawesi Utara menghadapi kekhawatiran yang sama seperti banyak komunitas adat lain: generasi muda semakin jauh dari tradisi leluhur.

Kekhawatiran itu mendorong mereka terus mempertahankan berbagai ritual adat, salah satunya melalui Upacara Manahumama, tradisi penghormatan kepada leluhur yang kembali digelar di Lapangan Bola Tongkuku, Kelurahan Bengkol, Kota Manado, Jumat (24/7).

Bagi masyarakat Bantik, upacara tersebut bukan sekadar seremoni adat, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.

Pemimpin Masyarakat Adat Bantik, Ronny Mopay, mengatakan Upacara Manahumama merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur, bukan praktik penyembahan.

"Upacara Manahumama ini, kita tidak menyembah entitas lain selain Mabu (Tuhan), tetapi kita menghormati para leluhur," kata Ronny.
Namun, ia mengaku khawatir jika semakin sedikit anak muda yang mau mempelajari dan meneruskan tradisi tersebut.

"Harapannya anak muda Bantik memiliki keinginan untuk belajar dan melestarikan adat serta budaya leluhur ini," ujarnya.

Pengingat akan akar budaya

Pandangan serupa disampaikan Pendeta Jusuf Kunondo. Menurutnya, Upacara Manahumama menjadi pengingat bagi masyarakat Bantik untuk tetap menghormati leluhur tanpa meninggalkan keyakinan kepada Mabu atau Tuhan.

Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal tradisi itu sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga ikut menjaga keberlangsungannya.

Baca Juga: Gubernur Sumut Bobby Nasution Kunjungi Festival Edukasi Leluhur Batak di Samosir

"Sangat berharap adat budaya kita selalu dilestarikan, terutama oleh generasi muda Bantik agar ikut berperan sebagai bagian dari penerus leluhur," katanya.

Digelar menjelang Festival Budaya Bantik

Upacara Manahumama merupakan tradisi yang telah lama dijalankan Masyarakat Adat Bantik. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, ritual ini juga dilakukan untuk memohon petunjuk dan restu sebelum melaksanakan kegiatan penting.

Tahun ini, upacara digelar sebagai bagian dari persiapan menuju Festival Budaya Bantik yang akan berlangsung pada 5 September 2026. Festival tersebut sekaligus menjadi peringatan wafatnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Monginsidi, putra asli Bantik.

Sebelas komunitas adat Bantik turut mengikuti upacara ini, yakni Talawaan Bantik, Meras, Molas, Bailang, Buha, Singkil, Malalayang, Bengkol, Kalasey, Tanamon, dan Sumoit.

Di luar persiapan festival budaya, Manahumama juga lazim dilaksanakan sebelum berbagai peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat, seperti menempati rumah baru, merenovasi rumah, memohon kesembuhan bagi orang sakit, hingga sebelum berangkat berperang.

Penulis: Chairunisa

Load More