- Private investigator Jubun menyatakan dalam Instagram Live ideclare bahwa perhatian intens di awal bisa menjadi modus love scam atau manipulasi emosional.
- Jubun menjelaskan bahwa cinta sehat tumbuh bertahap, sementara manipulasi dan love bombing sengaja mempercepat kepercayaan demi mengeruk keuntungan pribadi korban.
- Jubun mengimbau masyarakat agar selalu memverifikasi fakta pasangan dan waspada jika hubungan mulai melibatkan permintaan uang atau transaksi besar.
Suara.com - Di era media sosial, jatuh cinta bisa terjadi dalam hitungan hari. Perhatian yang intens, komunikasi tanpa henti, hingga janji masa depan sering kali dianggap sebagai tanda keseriusan. Namun, benarkah semua itu merupakan bukti cinta yang tulus?
Menurut private investigator Jubun, tidak selalu demikian. Di balik hubungan yang tampak romantis, bisa saja tersembunyi manipulasi emosional bahkan modus penipuan yang dikenal sebagai love scam. Hal itu ia bahas dalam sesi Instagram Live bersama ideclare bertajuk "Red Flag atau Love Scam? Cara Membedakan Cinta, Manipulasi, dan Penipuan."
Jubun menilai, salah satu kesalahan yang paling sering terjadi dalam sebuah hubungan adalah terlalu cepat mempercayai pasangan hanya karena mendapat perhatian yang besar di awal masa pendekatan.
"Cinta yang sehat membangun kepercayaan secara bertahap. Manipulasi justru sering ingin mempercepat kepercayaan sebelum kita sempat memeriksa siapa sebenarnya orang yang berada di hadapan kita," ujar Jubun.
Jangan Keliru Membedakan Love Bombing, Hubungan Toxic, dan Love Scam
Dalam banyak hubungan, perhatian berlebihan sering dianggap sebagai bentuk kasih sayang. Padahal, pola tersebut juga bisa menjadi bagian dari love bombing, yakni upaya membanjiri seseorang dengan perhatian, pujian, dan kasih sayang agar cepat terikat secara emosional.
Meski begitu, Jubun mengingatkan bahwa love bombing, hubungan toxic, manipulasi, dan love scam bukanlah istilah yang bisa disamakan.
Hubungan toxic merupakan relasi yang tidak sehat dan merugikan salah satu atau kedua pihak. Manipulasi terjadi ketika seseorang sengaja memengaruhi emosi maupun keputusan pasangannya demi kepentingan pribadi.
Sementara itu, love scam merupakan bentuk penipuan yang memanfaatkan hubungan romantis sebagai alat untuk memperoleh keuntungan, mulai dari uang, aset, akses rekening, informasi pribadi, hingga kepentingan lainnya.
Baca Juga: Menemukan Cinta di Jalur Pendakian
Karena itu, menurut Jubun, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, "Apakah dia mencintai saya?" tetapi juga, "Apakah identitas, cerita, dan tindakannya benar-benar bisa dibuktikan?"
Red Flag Bukan Berarti Pelaku Penipuan
Istilah red flag kini semakin populer di media sosial. Namun, Jubun mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan memberi label.
Seseorang yang memiliki kekurangan atau karakter yang kurang cocok belum tentu merupakan penipu. Sebaliknya, pelaku manipulasi justru sering tampil sangat meyakinkan, sopan, perhatian, dan mampu membangun citra sebagai pasangan ideal.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar penilaian terhadap pasangan tidak hanya berdasarkan perasaan, tetapi juga fakta yang dapat diverifikasi.
Misalnya, ketika pasangan berkali-kali memberikan informasi yang berubah-ubah mengenai pekerjaan, status perkawinan, keluarga, kondisi finansial, atau keberadaannya. Ketidaksesuaian antara ucapan dan fakta patut menjadi alarm untuk lebih berhati-hati.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan