Suara.com - Selama ini gula lebih dikenal sebagai bahan pemanis makanan dan minuman. Namun, di sebuah laboratorium di Massachusetts, Amerika Serikat, gula sedang diuji untuk fungsi yang berbeda: menjadi bahan baku plastik berbasis hayati.
Perusahaan asal Korea Selatan, CJ Biomaterials, mengembangkan material yang disebut polyhydroxyalkanoate (PHA). Material ini dibuat melalui proses fermentasi, dengan memanfaatkan gula sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme.
PHA kemudian dikumpulkan dan diolah menjadi butiran atau pelet. Material tersebut dapat dilelehkan dan dibentuk menjadi berbagai produk, mulai dari peralatan makan, sedotan, cangkir hingga kemasan makanan.
Dalam pengujian di fasilitas perusahaan, PHA digunakan untuk membuat sejumlah produk yang menyerupai plastik konvensional. Salah satu produknya adalah garpu.
Hasil pengujiannya beragam. Ada garpu yang dinilai terlalu lentur, sementara produk lainnya memiliki bentuk dan kekuatan yang menyerupai garpu plastik konvensional.
Perusahaan mengembangkan material tersebut sebagai alternatif plastik berbasis bahan bakar fosil yang dapat terurai secara hayati dalam kondisi tertentu.
Direktur Pemasaran CJ Biomaterials, Leah Frod, mengatakan kemampuan material untuk dikomposkan menjadi salah satu faktor yang mendorong minat terhadap bioplastik.
“Kemampuan untuk dikomposkan selalu menjadi pendorong yang sangat kuat,” katanya.
Menurutnya, meningkatnya pemahaman mengenai persoalan mikroplastik juga dapat memengaruhi cara masyarakat melihat material yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
Dari gula menjadi PHA
PHA merupakan kelompok biopolimer yang dapat diproduksi oleh mikroorganisme melalui proses fermentasi.
Dalam pengembangan CJ Biomaterials, gula digunakan sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme tersebut. PHA yang dihasilkan kemudian dipisahkan, dikeringkan, dan diproses menjadi pelet.
Pelet inilah yang kemudian dapat dilelehkan dan dicetak menjadi berbagai produk.
Berbeda dengan plastik konvensional yang dapat bertahan sangat lama di lingkungan, PHA dirancang agar dapat terurai secara biologis.
Dalam kondisi pengomposan yang sesuai, material tersebut disebut dapat terurai dalam waktu sekitar enam bulan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar
-
Transisi Energi Berwajah Hijau Jadi Modus Baru Perampasan Ruang Hidup
-
Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya
-
Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus