News / Nasional
Senin, 10 Agustus 2026 | 17:55 WIB
Ilustrasi mikroplastik penyebab polutan (dok.Pexels)

Suara.com - Selama ini para peneliti menduga bahwa penuaan mikroplastik di tanah akan semakin mudah berinteraksi dengan kontaminan organik. Penuaan ini bisa terjadi saat mikroplastik terpapar oleh lingkungan, seperti sinar matahari, perubahan suhu, atau proses alamiah tanah.

Dalam jurnal Soil and Environmental Health, para peneliti menemukan hasil yang berbeda dari dugaan tersebut. Temuan itu justru memperlihatkan proses penuaan mikroplastik polietilena (polyethylene/PE) di tanah hanya berpengaruh secara terbatas terhadap kontaminan organik. Artinya, mikroplastik yang sudah menua ternyata tidak berarti menjadi penyerap polutan yang jauh lebih kuat dibandingkan mikroplastik yang masih baru.

Setelah dikubur selama berbulan-bulan, permukaan mikroplastik tetap mengalami perubahan. Bahan organik alami tanah melapisis permukaannya, sehingga sifat kimianya ikut berubah.

Sebelumnya, ilmuwan banyak menduga bahwa proses penuaan ini akan menjadikan mikroplastik semakin mudah mengikat berbagai zat pencemar organik.

Demi membuktikan hal tersebut, peneliti menelaah interaksi terhadap mikroplastik yang telah menua dengan 48 kontaminan organik yang kerap ditemukan pada air limbah yang dipakai untuk irigasi pertanian, seperti pestisida, obat-obatan, dan senyawa kimia lainnya.

Hasil penelitian menguak fakta bahwa sekitar 90 persen kontaminan yang diuji, proses penuaannya hanya berpengaruh yang tidak seberapa, bahkan hampir tidak ada. Sebagian besar zat tercemar hanya menempel sesaat pada mikroplastik dan mudah terlepas kembali.

"Temuan kami menantang asumsi umum bahwa penuaan secara dramatis meningkatkan risiko lingkungan yang ditimbulkan oleh mikroplastik polietilen," kata salah satu peneliti dari Universitas Ibrani, Dr. Evyatar Ben Mordechay, dalam laman Phys.org, Rabu (5/8).

Ia memaparkan bahwa meskipun partikel mikroplastik mengalami perubahan setelah berbulan-bulan berada di tanah, modifikasi permukaan ini hanya menghasilkan perubahan minim dalam interaksinya dengan sebagian besar kontaminan.

"Di tanah pertanian, komponen tanah alami tetap jauh lebih penting daripada mikroplastik itu sendiri dalam menentukan ke mana bahan kimia ini berakhir," tambahnya.

Baca Juga: AIESEC in UI Hadirkan Global Village Summer 2026, Kenalkan Keberagaman dan Peduli Lingkungan

Selain itu, penelitian ini juga menyoroti terkait perbedaan tanah. Kandungan bahan organik dan lempungnya hampir tidak berpengaruh terhadap penuaan mikroplastik dengan kontaminan yang dikaji. Perubahan awal biasanya terjadi pada tahun pertama, setelah itu partikel tetap relatif stabil.

Mikroplastik tetap menjadi masalah lingkungan yang penting untuk dihadapi. Namun, dari temuan ini memperlihatkan bahwa peran beberapa mikroplastik dalam berinteraksi dengan kontaminan organik hanya terlalu dilebih-lebihkan.

"Mikroplastik masih merupakan masalah lingkungan, tetapi hasil penelitian kami membantu memperjelas di mana sebenarnya risiko terbesar berada," ujar salah satu peneliti dari Universitas Ibrani, Profesor Benny Chefetz.

Lebih lanjut, ia menjabarkan bahwa pergerakan kontaminan di tanah pertanian, tanah itu sendiri memiliki peran yang jauh lebih penting dibanding mikroplastik.

"Memahami perbedaan itu memungkinkan kita untuk membuat penilaian risiko lingkungan yang lebih akurat dan lebih memfokuskan penelitian dan upaya mitigasi di masa mendatang," ungkapnya.

Dengan adanya penelitian ini menjadikan salah satu kontribusi yang paling inklusid dalam menelaah mikroplastik yang telah lama ada di lahan pertanian dan berinteraksi dengan berbagai jenis kontaminan organik.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa mikroplastik polietilen sekadar memainkan peran kecil dalam memengaruhi perilaku kontaminan organik di lingkungan. Sebaliknya, tanahlah yang menjadi faktor utama, karena kandungan mineral dan bahan organiknya lebih berpengaruh dalam mengarahkan kontaminan tersebut akan tersimpan.

Penulis: Chairunisa

Load More