Lifestyle / Komunitas
Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:07 WIB
Bagas Dharmawan dan Muhammad Angga Nurohman, Sosok di Balik Komunitas Remime (dok.pribadi/Chairun Nisa)

Tetapi pertemuan itu tidak berhenti di sana.

“Terputuslah komunikasi kita secara verbal. Tapi, karena kita sama-sama dari komunitas pantomim, dia seorang seniman pantomim, jadilah kita ngobrol pake bahasa pantomim,” ujar Angga.

Bagas yang ikut dalam percakapan itu kemudian tertawa. Komunikasi yang bermula dari gerakan bahkan berlanjut menjadi kegiatan bersama.

“Akhirnya bisa makan duren bareng,” katanya.

Cerita itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi Angga, pengalaman tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih besar, manusia bisa memahami satu sama lain tanpa selalu membutuhkan kata-kata.

Pantomim yang sebenarnya sudah kita lakukan sejak kecil

Angga kemudian mengajak saya melihat pantomim dari sudut pandang yang berbeda. Menurut dia, manusia sebenarnya sudah berpantomim jauh sebelum mengenal bahasa.

Seorang bayi yang belum bisa berbicara, misalnya, akan menggerakkan tangan ketika menginginkan sesuatu. Ekspresi wajah berubah ketika merasa senang atau tidak nyaman.

Gerakan-gerakan itu menjadi cara untuk menyampaikan pesan.

Baca Juga: Indosat Ubah Cara Gamer Menikmati Dunia Digital, 5G Jadi Mesin Utama HoYo FEST 2026

“Tanpa sadar kita tuh sudah berpantomim sejak kecil loh. Intinya pantomim itu udah kita lakuin dari gerakan sehari-hari,” jelasnya.

Karena itu, bagi Angga, pantomim merupakan salah satu bentuk komunikasi paling tua. Tubuh menjadi medium untuk menyampaikan gagasan, emosi, bahkan cerita.

Mengapa wajah pantomim dicat putih?

Dari pembicaraan itu, saya kemudian penasaran dengan satu hal yang sejak lama melekat pada gambaran tentang pantomim: wajah putih.

Angga menjelaskan, riasan tersebut bukan kewajiban dalam setiap pertunjukan pantomim. Fungsinya lebih kepada kebutuhan panggung—membantu penonton menangkap ekspresi pemain, terutama dari jarak jauh.

“Biar penonton tuh lebih keliatan ekspresi kita,” katanya.

Riasan biasanya dilengkapi dengan alis yang dipertegas dan warna merah pada bibir. Tujuannya sama: membuat perubahan ekspresi lebih mudah terbaca oleh penonton.

Begitu pula dengan pakaian bergaris yang kerap diasosiasikan dengan pemain pantomim.

Menurut Bagas, motif tersebut memiliki sejarah yang berkaitan dengan perlawanan terhadap pembungkaman.

“Awalnya mereka itu dibungkam. Lalu mereka break the rule dengan memakai baju bergaris yang menyerupai seragam tahanan. Walaupun terkukung, mereka tetap melawan,” jelasnya.

Di atas panggung, pakaian bergaris juga membantu membuat gerakan tubuh pemain lebih mudah terlihat.

Membuat benda yang tidak ada menjadi nyata
Tetapi kemampuan berkomunikasi tanpa kata bukan berarti pantomim mudah dilakukan.

Justru sebaliknya. Seorang pemain pantomim harus mampu membuat penonton percaya pada sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Tembok. Cermin. Tali. Tangga.

Semua harus tampak nyata meski tidak pernah benar-benar hadir di atas panggung.

Karena itu, menurut Angga, kemampuan tersebut tidak bisa diperoleh hanya dengan menghafalkan gerakan. Kuncinya adalah latihan.

“Kita gak bisa menyampaikan sesuatu kalau kita sendiri belum pernah mencobanya, atau seenggaknya pernah lihat deh,” katanya.

Latihan bahkan tidak selalu berlangsung di ruang latihan.

Kegiatan sehari-hari bisa menjadi bahan belajar. Cara seseorang berjalan. Cara memegang gelas. Gerakan ketika minum. Cara mengangkat barang.

Semua diamati. Kemudian diulang. Terus-menerus.

“Latihannya bisa dari kegiatan sehari-hari aja. Misal minum, gimana sih gerakan minum, diulang-ulang aja terus nanti lama-lama otot bakal refleks dan jadi terbiasa deh,” ujar Angga.

Dari rerumputan Taman Menteng sore itu, pantomim yang semula saya bayangkan sebagai seni tentang gerakan tanpa suara perlahan terlihat berbeda.

Ia bukan sekadar tentang bagaimana seseorang berpura-pura menarik tali atau menyentuh dinding yang tidak ada.

Pantomim adalah tentang bagaimana tubuh berbicara ketika kata-kata tidak lagi tersedia.

Dan mungkin, jauh sebelum manusia belajar berbicara, tubuh memang sudah lebih dulu menemukan caranya untuk bercerita.

Penulis: Chairunisa

Load More