Lifestyle / Female
Jum'at, 14 Agustus 2026 | 23:48 WIB
PURANA 17: Renjana Perca. (Dok. Purana)
Baca 10 detik
  • Rumah mode PURANA menggelar acara bertajuk Renjana Perca di Grand Indonesia pada 14 hingga 23 Agustus 2026.
  • Acara perayaan 17 tahun PURANA ini memamerkan karya seni dari sisa kain perca dan instalasi kardus daur ulang.
  • PURANA juga menampilkan koleksi busana terbaru serta mendemonstrasikan pengolahan limbah botol plastik menjadi serat kain tekstil.

Suara.com - Merayakan kemerdekaan tidak selalu harus lewat seremoni. Bagi PURANA, semangat kemerdekaan juga bisa diwujudkan lewat kebebasan berkarya, merawat budaya, sekaligus menciptakan fashion yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Semangat itulah yang dihadirkan PURANA melalui “PURANA 17: Renjana Perca”, sebuah gerakan yang memadukan fashion, seni, budaya, dan ekonomi sirkular. Digelar di Main Atrium East Mall, Grand Indonesia, pada 14–23 Agustus 2026, agenda ini sekaligus menjadi perayaan 17 tahun perjalanan PURANA sebagai rumah mode dan gaya hidup kontemporer Indonesia.

Mengusung tema “Kemerdekaan Berkarya”, Renjana Perca mempertemukan 12 seniman kolaborator yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari perjalanan kreatif PURANA. Mereka antara lain Sutjipto Adi, Ruth Marbun, Agan Harahap, Hendra “HeHe” Harsono, Sarkodit, Suanjaya Kencut, Anton Afganial, Francisca “Kika” Puspitasari, Hana Surya, Rosyid Akhmadi, Arief Susanto, dan Savirra Lavinia.

Bagi Founder & Chief Creative Officer PURANA, Nonita Respati, perjalanan 17 tahun tersebut tidak pernah menjadi perjalanan seorang diri.

“Selama 17 tahun, perjalanan PURANA dalam menghidupkan filosofi ‘Livable Art’ bukanlah perjuangan saya seorang diri. Saya sangat bersyukur dapat senantiasa berkolaborasi erat dengan para seniman hebat dari seluruh penjuru Indonesia untuk mengabadikan kekayaan warisan budaya, flora, fauna, lingkungan, serta narasi Nusantara ke dalam setiap motif PURANA,” ujar Nonita.

Kanina Hanindita, General Manager Marketing Communication and Operations Grand Indonesia; Andarina Sumarno, Co-founder & CFO PURANA; Hanny, General Manager Vicenza; Nonita Respati, Founder & Chief Creative Officer PURANA; serta Arif Susanto, Founder & CEO Dus Duk Duk. (Dok. Purana)

Ketika Sisa Kain Menjadi Karya Seni

Salah satu area yang menarik perhatian dalam Renjana Perca adalah The Living Archive, sebuah galeri yang mengubah sisa kain perca menjadi karya seni.

Material yang biasanya berakhir sebagai limbah justru mendapatkan kehidupan baru melalui tangan para seniman. Konsep ini sekaligus memperlihatkan bagaimana praktik circular fashion dapat berjalan berdampingan dengan seni dan kreativitas.

Pengunjung juga dapat melihat bagaimana PURANA membawa prinsip keberlanjutan ke dalam keseluruhan pengalaman acara. Instalasi utama dirancang oleh seniman spasial Arief Susanto dan diproduksi oleh DusDukDuk menggunakan material kardus daur ulang.

Baca Juga: Mengapa Gen Z Mulai Memilih Thrifting Dibanding Fast Fashion?

Menariknya, struktur tersebut dirancang agar dapat dibongkar dan digunakan kembali sehingga limbah pascaacara dapat ditekan seminimal mungkin.

Menurut perwakilan DusDukDuk, kolaborasi ini menjadi ruang eksplorasi untuk menunjukkan bahwa kardus daur ulang dapat digunakan bukan hanya sebagai material kemasan, tetapi juga sebagai material konstruksi dan desain.

Dalam proyek Renjana Perca, sekitar 600 elemen kardus digunakan untuk membangun instalasi. Sebagian material tersebut bahkan berasal dari dekorasi PURANA pada tahun sebelumnya sehingga kembali dimanfaatkan untuk menciptakan bentuk baru.

Konsep tersebut memperlihatkan bahwa prinsip circular economy tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang rumit. Material yang sudah digunakan dapat kembali menjadi bagian dari sebuah karya, kemudian diolah lagi untuk kebutuhan berikutnya.

PURANA 17: Renjana Perca. (Dok. Purana)

Dari Botol Plastik Menjadi Material Fashion

Semangat circular fashion juga diperlihatkan PURANA melalui demonstrasi “Waste-to-Weave”.

Load More