- Petugas kesehatan harus memindahkan korban pingsan saat upacara ke tempat teduh dengan udara yang baik.
- Penolong wajib membaringkan korban telentang dengan posisi kaki lebih tinggi untuk melancarkan aliran darah.
- Tindakan melonggarkan pakaian, memberi kompres dingin, aromaterapi, dan minuman manis dilakukan untuk memulihkan kesadaran korban.
Suara.com - Mengikuti upacara bendera di bawah terik matahari memerlukan kondisi fisik yang prima. Sering kali, kombinasi antara cuaca panas, belum sarapan, dan posisi berdiri yang terlalu lama membuat peserta merasa tidak kuat.
Karena itu sangat penting bagi petugas kesehatan atau pendamping untuk mengetahui cara mengatasi peserta upacara pingsan atau pusing akibat panas matahari, agar penanganan bisa dilakukan dengan cepat dan tepat.
Jika kamu melihat teman atau peserta upacara mulai menunjukkan tanda-tanda lemas, wajah pucat, atau bahkan kehilangan kesadaran, berikut adalah langkah-langkah pertolongan pertama yang harus dilakukan.
1. Segera Pindahkan ke Tempat yang Teduh dan Sejuk
Langkah pertama yang paling krusial adalah mengevakuasi korban dari lapangan. Carilah tempat yang memiliki sirkulasi udara yang baik, seperti di bawah pohon yang rindang, UKS, atau teras gedung yang tidak terkena sinar matahari langsung.
Pastikan lingkungan sekitar tidak terlalu ramai agar korban bisa mendapatkan oksigen yang cukup
2. Atur Posisi Tidur Telentang dengan Kaki Lebih Tinggi
Setelah berada di tempat teduh, baringkan korban secara telentang tanpa bantal. Langkah penting dalam cara mengatasi peserta upacara pingsan atau pusing akibat panas matahari adalah mengangkat kaki korban sekitar 20-30 cm lebih tinggi dari posisi jantung.
Hal ini bertujuan untuk membantu memperlancar aliran darah dan oksigen menuju otak yang sempat terhambat akibat suhu panas.
Baca Juga: Link Download Pedoman Upacara HUT RI ke-81 untuk Acara 17 Agustus 2026
3. Longgarkan Pakaian dan Aksesori Upacara
Pakaian upacara yang lengkap sering kali terasa menyesakkan saat tubuh sedang kepanasan. Longgarkan dasi, ikat pinggang, kancing kerah baju, dan lepaskan sepatu jika memungkinkan.
Dengan melonggarkan pakaian, pernapasan korban akan menjadi lebih lega dan suhu tubuh bisa turun lebih cepat.
4. Berikan Kompres Dingin di Area Tertentu
Suhu tubuh yang meningkat drastis (overheat) adalah penyebab utama pusing dan pingsan. Gunakan kain basah atau kompres dingin pada area lipatan tubuh seperti leher, ketiak, atau selangkangan.
Area-area ini memiliki pembuluh darah yang dekat dengan permukaan kulit, sehingga membantu mendinginkan suhu inti tubuh secara efektif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
5 Rekomendasi Day Cream Lokal dengan SPF untuk Melindungi Kulit Wajah
-
BRI Peduli Tanggap Bencana Gerak Cepat Bantu Warga Terdampak Gempa Bumi Flores
-
Pemprov NTT Tetapkan Status Tanggap Darurat Gempa Selama 14 Hari
-
Ambulans Udara hingga Dokter Terbang: Salah Kaprah Pemerintah Sikapi Masalah
-
6 Cara Mengatasi Peserta Upacara Pingsan atau Pusing akibat Panas Matahari
-
3 Contoh Teks Sambutan Ketua RT untuk Malam Tirakatan 17 Agustus 2026, Singkat dan Berkesan!
-
UMKM Perempuan Aceh untuk Naik Kelas Berkat Sinergi PNM dan OJK
-
Bareskrim ke Nagoya Food Court Batam, Gerebek Diduga Sarang Perjudian
-
Kidung Para Pencari: Menemukan Makna di Tengah Riuh Kehidupan
-
Ketika Kereta Api Melintas di Pulau Sulawesi, Jauh Sebelum Indonesia Merdeka