- Seorang influencer membagikan pengalamannya mencari pendapat medis kedua di Penang, Malaysia, yang memicu perdebatan publik.
- Direktur Medisata, Birgita, menyatakan bahwa pengalaman pribadi pasien di media sosial tidak bisa disamaratakan untuk semua kasus medis.
- Masyarakat diimbau agar membuat keputusan medis berdasarkan pemeriksaan dokter yang kompeten, bukan dari narasi viral.
Salah satu persoalan yang muncul dari konten kesehatan di media sosial adalah munculnya anggapan bahwa berobat ke luar negeri otomatis memberikan diagnosis atau penanganan yang berbeda dari Indonesia.
Padahal, kebutuhan setiap pasien ditentukan berdasarkan kondisi medisnya. Dalam kasus usus buntu akut, misalnya, tindakan operasi dapat tetap diperlukan untuk mencegah komplikasi dan menjaga keselamatan pasien, di negara mana pun penanganan dilakukan.
Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tidak menggunakan satu pengalaman pasien sebagai standar untuk menentukan tindakan medis yang harus dilakukan.
Informasi mengenai pengobatan di luar negeri juga perlu diperoleh dari sumber yang kredibel, seperti dokter, rumah sakit, atau pihak yang memiliki kompetensi dalam menjembatani komunikasi antara pasien dan fasilitas kesehatan.
Bijak Memilih Informasi Kesehatan
Media sosial boleh saja dijadikan sebagai sumber informasi awal, namun bukan sebagai dasar tunggal dalam mengambil keputusan medis.
Jika menemukan informasi mengenai diagnosis, pengobatan, atau pengalaman pasien di luar negeri, masyarakat dapat memeriksa kembali kebenarannya melalui tenaga medis yang kompeten. Dengan begitu, keputusan kesehatan tidak dibuat berdasarkan narasi viral, melainkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan medis masing-masing pasien.
Pada akhirnya, memilih pengobatan di luar negeri merupakan hak pasien. Namun, keputusan mengenai diagnosis dan tindakan medis tetap perlu didasarkan pada pemeriksaan dokter dan bukti medis yang relevan, bukan semata-mata pada pengalaman seseorang yang viral di media sosial.
Baca Juga: IDI Desak Audit RS dan BPJS Usai Tragedi Yusrizal: Pelayanan Kesehatan Tak Boleh Diefisiensi
Berita Terkait
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Harga Sepeda Lipat Entry Level Terbaik Berapa? Ini 5 Rekomendasinya di Tahun 2026
- 3 HP Infinix Murah dengan Fast Charging 33W, Mulai Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Rumor Jadi Kutu Loncat ke PSI, Ini Respon Menohok Dedi Mulyadi
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
Terkini
-
Audio Jadi Bagian dari Gaya Hidup, Menemukan Suara yang Pas untuk Setiap Momen
-
Mengenal Qamaril Adani, Akan Wakili Indonesia di Miss Polo Universe 2027
-
Anak Skena di Cherrypop 2026 Diajak Melek Sampah Plastik Bareng POPSEA
-
Dari Gadis 19 Tahun: Perjalanan 3 Dekade Wanda Ponika Bangun Imperium Berlian
-
Dalam 4 Jam PM2.5 Palembang Melonjak 3 Kali Lipat, Begini Kondisi Terbarunya
-
Revaldo Ditangkap di Apartemen, Polisi Temukan Sabu dan Alat Isap
-
Diisukan Membelot dari Gerindra ke PSI, Dedi Mulyadi Kaget dan Heran
-
Modus Timbang Berat Badan, Pedagang Cimin di Cirebon Diduga Cabuli 7 Anak
-
Pakai Teknologi Kelme K-Loomax, Ini Tampilan Jersey Home, Away dan Third Persib
-
Bukan Perkuat Timnas Indonesia, Adik Mitchell Baker Pilih Hong Kong