-
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyelimuti wilayah Jakarta dan Depok.
-
Partikel abu vulkanik bersifat abrasif, asam, serta membahayakan saluran pernapasan.
-
Masyarakat diimbau memakai masker N95 dan kacamata saat beraktivitas di luar.
Suara.com - Peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/6/2026) mulai dirasakan dampaknya oleh warga di luar wilayah Banten.
Sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda tersebut dilaporkan telah sampai ke sejumlah titik di Jakarta dan Depok.
Abu vulkanik yang disebabkan erupsi Gunung Anak Krakatau bisa menyebabkan gangguan penapasan, iritasi kulit dan mata, serta silikosis.
Informasi ini menjadi sorotan netizen setelah beberapa unggahan di media sosial menunjukkan penampakan debu tipis yang menyelimuti fasilitas umum.
Mengutip akun Instagram @depok24jam, Minggu (6/9/2026), seorang warga membagikan kondisi terkini di selasar D'Mall Depok.
Dalam video tersebut, lantai pusat perbelanjaan itu tampak diselimuti debu yang diduga kuat merupakan abu vulkanik. Jejak langkah kaki pengunjung pun terlihat jelas di sepanjang area halaman mall.
Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di jantung ibu kota. Berdasarkan unggahan @jktinfo, abu vulkanik terlihat memenuhi area beranda perkantoran di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada Minggu pagi.
Hingga saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Siaga atau Level III.
Masyarakat diminta untuk tidak meremehkan sebaran abu ini karena sifatnya yang berbeda dengan debu biasa.
Abu vulkanik memiliki karakteristik keras, abrasif (mengikis), bersifat asam, dan tidak larut dalam air.
Jika terhirup atau mengenai anggota tubuh, ada sederet risiko kesehatan yang mengintai.
Menyadur informasi kesehatan terkait dampak erupsi, berikut adalah 4 bahaya abu vulkanik yang wajib Anda waspadai.
1. Gangguan Pernapasan Akut
Abu vulkanik sangat berisiko bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita asma atau PPOK.