Suara.com - Daun nanas yang selama ini hanya berakhir sebagai limbah pascapanen kini menemukan jalan baru untuk dimanfaatkan. Dosen Program Magister Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa),Inty Nahari, mengolah serat daun nanas Kelud menjadi material terkstil berbasis serat alam bernama Barik.
Riset tersebut lahir dari keresahan atas tumpukan limbah daun nanas di sentra-sentra pertanian yang jarang dilirik sebagai bahan baku bernilai tambah.
Bagi Inty, hasil olahannya bukan sekadar karya seni, melainkan pembuktian bahwa material lokal Indonesia bisa menjawab isu global seperti keberlanjutan lingkungan, pengelolaan limbah pertanian, dan pelestarian pengetahuan tradisional.
Karya Barik mendapat panggung di pameran seni internasional "Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma" yang digelar di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Bali. Karya itu terpilih di antara 79 karya dari 50 seniman dan praktisi asal delapan negara.
Ia sengaja tidak menyeragamkan tekstur, warna, dan ketebalan serat sebagaimana lazimnya material tekstil industri. Ketidakseragaman itu justru dipertahankan dan dipadukan dengan teknik tenun kluwung, sehingga menghasilkan permukaan tekstil dengan karakter unik yang sulit ditiru secara identik.
"Ketidakteraturan itu tidak saya pandang sebagai kekurangan, tetapi sebagai rekaman alami dari lingkungan," ujar Inty, dilansir dari laman resmi Universitas Negeri Semarang.
Penelitian ini berjalan bertahap sejak 2023, ketika Inty mulai mengeksplorasi daun nanas madu Kelud sebagai bahan serat untuk tenun alat tenun bukan mesin (ATBM), terinspirasi relief Candi Palah Penataran. Eksplorasi kemudian meluas ke berbagai serat alam lain di kawasan lereng Gunung Kelud untuk memahami karakter material dan peluang pengembangannya.
Menurut Inty, justru karena berasal dari lingkungan yang sangat lokal, serat daun nanas mampu berbicara tentang persoalan yang jadi perhatian dunia mulai dari keberlanjutan, limbah pertanian, hubungan manusia dengan alam, hingga pentingnya menghargai kembali pengetahuan tradisional.
Ia memandang hasil risetnya membuka peluang yang lebih luas ketimbang sekadar karya pameran. Serat daun nanas berpotensi dikembangkan menjadi beragam produk, mulai dari fesyen, aksesori, elemen interior, panel dekoratif, hingga produk kriya.
Potensi tersebut juga membuka ruang kolaborasi lintas pihak yakni, petani nanas, perajin tenun, desainer, peneliti, industri, hingga pemerintah daerah agar limbah pertanian bisa memiliki nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian lokal.
Ke depan, Inty berencana memperluas jejaring riset seputar serat alam Indonesia sekaligus membangun pusat dokumentasi dan laboratorium untuk mengkaji karakter material, teknik pengolahan, serta peluang hilirisasinya secara lebih sistematis.
Riset ini selaras dengan sejumlah target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), termasuk soal pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri dan inovasi, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta kemitraan untuk mencapai tujuan bersama.