- IHATEC Marketing Research menyelenggarakan Top Halal Award 2026 di Jakarta pada Rabu, 23 September 2026.
- Riset Top Halal Index 2026 melibatkan 2.100 responden dari generasi milenial dan Gen Z di enam kota besar.
- Acara tersebut memberikan apresiasi kepada puluhan brand berdasarkan perubahan ekspektasi konsumen terhadap produk halal.
Suara.com - Bagi sebagian konsumen, label halal mungkin dulu hanya menjadi penanda bahwa sebuah produk telah memenuhi ketentuan tertentu. Namun, cara pandang itu perlahan berubah.
Halal kini ikut menjadi pertimbangan ketika konsumen memilih sebuah produk. Bukan hanya soal ada atau tidaknya sertifikat, tetapi juga bagaimana sebuah brand menjaga kualitas, proses produksi, hingga kepercayaan yang sudah dibangun.
Perubahan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Top Halal Award 2026 yang digelar IHATEC Marketing Research di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, Top Halal Award tahun ini mengusung tema “Halal Beyond Compliance: Elevating Brand Trust in the AI Marketing Era”. Tema tersebut menggambarkan bagaimana halal mulai ditempatkan lebih jauh dari sekadar kewajiban sertifikasi.
Direktur IHATEC Marketing Research Evrin Lutfika mengatakan, penghargaan tersebut tidak sekadar memberikan apresiasi kepada brand, tetapi juga menjadi gambaran mengenai perubahan ekspektasi konsumen.
“Top Halal Award bukan sekadar simbol kepatuhan terhadap regulasi halal, melainkan sebuah pengakuan atas keberhasilan brand dalam membangun kepercayaan yang kuat dengan konsumen,” ujarnya.
Gambaran itu terlihat dari riset Top Halal Index 2026 yang melibatkan 2.100 responden di enam kota besar, yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Balikpapan. Responden yang disurvei berasal dari generasi milenial dan Gen Z, dengan penilaian terhadap aspek brand sekaligus halal.
Menurut Evrin, konsumen sekarang tidak hanya melihat kualitas dan fungsi produk. Nilai, transparansi, pengalaman, serta konsistensi sebuah brand dalam memenuhi ekspektasi juga ikut membentuk kepercayaan.
Pandangan tersebut sejalan dengan Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Muhammad Aqil Irham. Ia melihat kesadaran halal, khususnya di kalangan generasi muda, semakin memengaruhi preferensi konsumen.
“Tren kesadaran halal semakin tinggi. Kalau tidak memenuhi maka akan ditinggalkan konsumen,” kata Aqil.
Karena itu, ia mengimbau pelaku usaha yang belum memiliki sertifikat halal untuk segera melakukan sertifikasi. Apalagi, persaingan produk halal kini tidak hanya berasal dari dalam negeri. Negara seperti Brasil, China, Italia, Amerika Serikat, dan Rusia juga menjadi eksportir produk halal.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sholahudin Al Aiyub mengingatkan agar sertifikasi halal tidak berhenti sebagai formalitas.
“Sertifikasi halal semestinya tidak lagi dipandang sekadar standar kepatuhan atau ‘tiket masuk’ ke pasar, melainkan pondasi purpose-driven branding yang membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen dalam jangka panjang,” ujarnya.
Artinya, komitmen halal perlu terlihat dalam praktik sehari-hari, mulai dari proses produksi dan rantai pasok hingga cara brand berkomunikasi dengan konsumen.
Halal juga dinilai punya peluang besar untuk memperkuat produk kreatif Indonesia. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan nilai halal kini semakin luas, tidak hanya berkaitan dengan makanan dan minuman, tetapi juga fesyen, kosmetik, hingga produk gaya hidup.
“Di sinilah ekonomi kreatif memiliki peran besar, bagaimana kreativitas, storytelling, desain dan kekuatan jenama bisa membawa produk Indonesia naik kelas. Dari sekadar memenuhi standar menjadi produk yang dipercaya, diminati dan berdaya saing,” katanya.
Dengan perkembangan teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pemasaran, tantangan membangun kepercayaan pun semakin kompleks. Informasi dapat diproduksi dan disebarkan dengan cepat, sehingga konsistensi antara apa yang dikomunikasikan brand dan apa yang benar-benar dilakukan menjadi semakin penting.
Lewat Top Halal Award 2026, IHATEC memberikan apresiasi kepada puluhan brand dari berbagai kategori berdasarkan hasil Top Halal Index. Bagi industri, penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah banyaknya pilihan produk, label halal bisa menjadi awal kepercayaan, tetapi konsistensi yang membuat kepercayaan itu bertahan.