Suara.com - Tumbler yang awalnya hadir sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai kini semakin lekat dengan tren gaya hidup. Di kalangan pekerja kantoran hingga anak muda, tumbler dari berbagai merek, warna, dan hasil kolaborasi dengan brand ternama bahkan dikoleksi dan menjadi bagian dari penampilan.
Di satu sisi, kebiasaan membawa tumbler dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap produk sekali pakai. Namun di sisi lain, kebiasaan mengoleksi dan terus membeli tumbler baru justru dapat menciptakan pola konsumsi yang berlebihan.
Praktisi bisnis lingkungan sekaligus dosen praktisi Program Magister Pengelolaan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Saprian, yang akrab disapa Bang Sab, mengingatkan bahwa memiliki tumbler tidak otomatis membuat gaya hidup seseorang menjadi berkelanjutan.
"Apakah otomatis, kalau koleksi tumbler bisa ramah lingkungan? Jawabannya itu enggak," kata Saprian kepada suara.com.
Menurut Saprian, keberlanjutan tidak cukup dilihat dari fungsi sebuah produk untuk menggantikan barang sekali pakai. Ada proses panjang di balik sebuah produk yang juga perlu diperhitungkan, mulai dari bahan baku hingga produk tersebut digunakan dan akhirnya dibuang.
Ketika Tumbler Berubah Menjadi Barang Koleksi
Saprian menjelaskan, salah satu hal yang dapat menggeser tujuan awal penggunaan tumbler adalah strategi pemasaran dan kolaborasi dengan berbagai brand.
Kolaborasi dengan band, artis, kedai kopi, maupun merek populer dapat membuat tumbler memiliki nilai lebih dari sekadar wadah minum. Belum lagi tumbler yang diperoleh secara gratis dari seminar, acara pernikahan, atau kegiatan lainnya.
Akibatnya, jumlah tumbler yang dimiliki seseorang dapat bertambah meski tidak semuanya benar-benar digunakan.
"Niat yang tadinya sudah benar, pengen sustain karena alasan ekonomi, karena cinta bumi, masuk lagi dipengaruhi brand dan sebagainya. Otomatis kena lagi," ujarnya.
Padahal, dampak lingkungan tumbler tidak hanya ditentukan oleh penggunaannya. Produksi tumbler membutuhkan bahan baku, energi, dan air. Setelah diproduksi, barang tersebut juga perlu disimpan dan didistribusikan, yang turut menghasilkan emisi dari proses transportasi.
Sejumlah kajian life cycle assessment (LCA) menunjukkan bahwa manfaat lingkungan tumbler juga bergantung pada seberapa sering produk tersebut digunakan.
Riset yang dihimpun lembaga nirlaba Green Alliance dari Inggris, misalnya, menunjukkan titik impas penggunaan tumbler dibandingkan botol plastik sekali pakai berada di kisaran 10 hingga 20 kali pemakaian, tergantung material yang digunakan.
Kajian lain yang dimuat dalam jurnal ScienceDirect pada 2025 juga menunjukkan bahwa jejak lingkungan sebuah tumbler dipengaruhi oleh lama penggunaan dan cara produk tersebut dicuci.
Artinya, mengganti botol sekali pakai dengan tumbler dapat menjadi salah satu langkah mengurangi dampak lingkungan, tetapi manfaat tersebut semakin berarti ketika tumbler benar-benar digunakan berulang kali dalam jangka panjang.
Mulai dari Membeli karena Butuh
Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah klaim ramah lingkungan yang digunakan dalam pemasaran produk. Saprian mengingatkan konsumen untuk tidak serta-merta menganggap sebuah produk berkelanjutan hanya karena memiliki label atau kampanye hijau.
Ia menyebut kondisi tersebut dapat mengarah pada greenwashing, yakni praktik ketika suatu produk atau perusahaan membangun citra ramah lingkungan yang tidak sebanding dengan dampak sebenarnya.
"Tumbler lahir bukan sebagai produk polos. Ada brand-nya, ada mereknya," katanya.
Meski demikian, Saprian tidak menilai kampanye penggunaan tumbler sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk. Menurut dia, upaya mengurangi kebiasaan menggunakan produk sekali pakai tetap dapat memberikan manfaat.
Yang perlu diperhatikan adalah perilaku setelah seseorang memiliki tumbler tersebut. Membeli satu tumbler yang benar-benar dibutuhkan dan menggunakannya berulang kali memiliki makna berbeda dengan terus membeli produk baru karena mengikuti tren.
Karena itu, langkah sederhana yang dapat dilakukan konsumen adalah mempertanyakan kembali kebutuhan sebelum membeli. Apakah tumbler baru memang diperlukan, atau hanya tertarik pada desain, kolaborasi, maupun tren terbaru?
"Jangan karena ini hijau, maka syarat ramah lingkungan sudah terpenuhi. Ada syarat turunannya," tegasnya.
Pada akhirnya, gaya hidup berkelanjutan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak produk berlabel ramah lingkungan yang dimiliki. Dalam konteks tumbler, manfaat lingkungan justru lebih mungkin tercapai ketika barang yang sudah dimiliki digunakan secara konsisten dan selama mungkin.
"Sustainability lifestyle itu bukan suatu teori yang mulu-mulu, tapi teori yang dimulai dari kita butuh, kita benar-benar sadar kita butuh, dan kita menerapkan itu sebagai gaya hidup yang berkelanjutan," pungkasnya.
Penulis: Inesia Dian