Gemerlap panggung, riuh penonton, dan lantunan musik yang menghibur ternyata memiliki konsekuensi besar bagi lingkungan. Berdasarkan catatan dari Seaside Sustainability, rata-rata festival musik yang berlangsung selama tiga hari mampu menghasilkan sekitar 500 ton emisi karbon.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pengalaman yang terasa menyenangkan tetap mengakibatkan kerusakan lingkungan yang luas.
Bahkan dalam beberapa festival telah mencoba untuk menekan dampak ini melalui program daur ulang dan mendirikan water station.
Akan tetapi, dampaknya tidak hanya bersumber dari makanan ataupun barang dagangan. Hal yang diam-diam turut menyumbang adalah industri fesyen.
Banyak orang memilih pakaian bertemakan musisi yang ingin ditontonnya dan hanya untuk sekali pakai. Padahal, industri tersebut membawa dampak buruk terhadap lingkungan, mengingat bahan yang digunakan menyumbang limbah tekstil berbahaya.
Tidak lengkap rasanya jika datang ke festival atau konser musik tanpa mengenakan riasan. Sering kali para penonton datang dengan riasan maksimal, salah satunya adalah penggunaan riasan gliter.
Namun, siapa sangka ternyata gliter mengandung mikroplastik yang paling melimpah dan berbahaya. Ukurannya yang sangat kecil itu akan sulit terurai, jika berakhir di luatan, besar kemungkinan dikonsumsi oleh hewat laut.
Di samping itu, polusi yang terjadi dalam rangkaian tersebut adalah polusi suara. Suara yang terlalu keras ternyata turut mengganggu lingkungan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa suara mulai berbahaya jika mencapai lebih dari 75 desibel, sedangkan suara di atas 65 desibel sudah dikategorikan sebagai polusi suara.
Becermin dari hal tersebut, konser musik biasanya menghasilkan suara yang sangat keras. Bahkan rata-rata sekitar 100 desibel.
Yang jadi masalah di sini adalah tidak jarang festival maupun konser musik diselenggarakan di tempat dekat dengan alam sehingga suara bising tersebut bisa saja mengganggu satwa liar di sekitarnya.
Meskipun konser dan festival musik memiliki berbagai dampak terhadap lingkungan, upaya untuk menguranginya mulai dilakukan oleh penyelenggara maupun para musisi.
Sejumlah tempat penyelenggaraan acara tersebut mencoba menerapkan aturan dalam rangka menekan sampah.
Mulai dari membatasi penggunaan sedotan sekali pakai, misalnya festival musik Glastonbury sejak 2017 berkomitmen menghentikan penjualan botol plastik dan menggantinya dengan minuman kemasan kaleng yang bisa didaur ulang.
Di Indonesia sendiri ada festival Sunset di Kebun yang menggaungkan kampanye peduli lingkungan.
Pada penyelenggaraan Sunset di Kebun Bogor Phase 2 di tanggal 29—30 Agustus 2026, tercatat 6.328 kilogram sampah, terdiri dari 155,8 kg botol plastik, 146,4 kg cup plastik, 14,1 kg tutup botol, dan 6.011,7 kg sampah residu.
Upaya tersebut juga bisa dilakukan oleh para penonton. Mereka bisa saja membawa botol minum sendiri, memilih pakaian dari toko barang bekas ataupun yang lebih berkelanjutan, serta menggunakan transportasi umum saat menuju venue konser.
Bahkan penonton diharapkan dapat memastikan sampah-sampah yang dihasilkan akan dibuang pada tempatnya dan tidak meninggalkan jejak sampah di sekitar lokasi acara.
Walaupun konser maupun festival musik memiliki berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, masih ada cara untuk mengimbanginya.
Langkah-langkah tersebut mulai diterapkan oleh setiap individu maupun kelompok dalam memastikan bahwa mereka tetap bisa menyaksikan musisi favorit tanpa harus membahayakan lingkungan.
Penulis: Chairunisa