Bukan Sekadar Belajar, Siswa SMA Ini Ubah Masalah Lingkungan Jadi Ide Inovatif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:34 WIB
Bukan Sekadar Belajar, Siswa SMA Ini Ubah Masalah Lingkungan Jadi Ide Inovatif (Dok. Istimewa)
BACA 10 DETIK
  • Siswa SMA di Jabodetabek menciptakan inovasi lingkungan melalui program National Innovation Challenge pada April 2026.
  • BASF Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia menyelenggarakan kompetisi untuk melatih penalaran kritis generasi muda.
  • Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta memenangkan kompetisi berkat perangkat air bersih O2H.

Suara.com - Masalah lingkungan kerap terdengar seperti persoalan besar yang membutuhkan solusi dari pemerintah, perusahaan, atau para ahli. Namun, bagi sejumlah siswa SMA di Jabodetabek, perubahan justru bisa dimulai dari hal-hal yang mereka temukan di lingkungan sekitar.

Mulai dari limbah makanan, sampah tekstil dan organik, pencemaran, keterbatasan air bersih, hingga kebutuhan energi alternatif, berbagai persoalan tersebut menjadi bahan bagi para siswa untuk mencari solusi. 

Bukan hanya berdiskusi, mereka mencoba menerjemahkan gagasan menjadi inovasi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut terlihat dalam National Innovation Challenge, babak final dari program Young Voices for a Sustainable Future – Innovation Challenge for a Just Transition yang merupakan kolaborasi BASF Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia (PJI).

Sejak April 2026, program tersebut melibatkan 100 siswa yang tergabung dalam 20 tim dari 16 SMA di wilayah Jabodetabek. Sebanyak 50 siswa dari 10 tim kemudian melaju ke babak final untuk mempresentasikan solusi yang mereka kembangkan di hadapan dewan juri.

Menariknya, inovasi yang muncul tidak berhenti pada satu bentuk. Para siswa menggunakan pendekatan STEAM yang menggabungkan sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika untuk mengembangkan produk, perangkat berbasis teknologi, hingga platform digital.

Proses tersebut membuat pembelajaran tidak lagi sebatas memahami teori di dalam kelas. Para siswa diajak mengamati persoalan di sekitar, mencari tahu siapa yang terdampak, melakukan riset, berdiskusi, kemudian menguji gagasan yang mereka miliki.

Rurry Fatchurrachman, Kasubtim Peserta Didik, Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, menilai pengalaman tersebut dapat membantu siswa menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata.

“Program ini memberi ruang bagi siswa untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Melalui proses mengenali persoalan dan mengembangkan solusi, siswa mengasah penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi,” ungkap Rurry.

Keterampilan tersebut menjadi semakin penting ketika generasi muda dihadapkan pada persoalan masa depan yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Karena itu, kemampuan mengenali masalah, mengolah informasi, bekerja dalam tim, sekaligus menyampaikan gagasan menjadi bagian dari proses belajar.

Hal serupa disampaikan Utami Anita Herawati, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia. Menurutnya, anak muda tidak cukup hanya mendapatkan informasi mengenai persoalan lingkungan, tetapi juga perlu memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam proses mencari solusinya.

“Generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar informasi tentang masalah lingkungan. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk mencari tahu penyebab masalah, mencoba berbagai gagasan, bekerja sama, menerima masukan, dan memperbaiki solusi yang mereka kembangkan,” ujar Utami.

Dari proses tersebut, lahirlah beragam gagasan yang terbagi dalam enam tema, mulai dari aksi iklim, air dan sanitasi, konsumsi bertanggung jawab, ekonomi sirkular dan pengurangan limbah, energi berkelanjutan, hingga solusi digital untuk keberlanjutan.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah O2H: Atmospheric Water Harvesting System milik Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta. Tim tersebut terpilih sebagai pemenang National Innovation Challenge setelah mengembangkan perangkat yang dirancang untuk mengubah kelembapan udara menjadi air bersih melalui proses penyaringan dan sterilisasi.

Muhammad Rizqi Sugianto, perwakilan Tim Gen V, mengatakan gagasan tersebut berawal dari kepedulian terhadap keterbatasan akses air bersih yang dialami sejumlah rumah tangga dan komunitas, terutama ketika musim kemarau.

Pencapaian para siswa ini memperlihatkan bahwa pembelajaran mengenai keberlanjutan tidak harus selalu dimulai dari teori yang rumit. Ketika diberi kesempatan untuk mengamati persoalan di sekitar dan mencoba mencari jawabannya, ruang belajar dapat berubah menjadi tempat lahirnya berbagai gagasan.

Bagi generasi muda, pengalaman tersebut bukan hanya tentang memenangkan kompetisi. Lebih jauh, mereka belajar bahwa persoalan yang ditemui sehari-hari dapat menjadi titik awal untuk menciptakan perubahan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com