-
Mitos makan telur mentah bisa meningkatkan stamina beredar luar.
-
Padahal, makan telur mentah memicu keracunan bakteri Salmonella berbahaya.
-
Pastikan memasak telur hingga benar-benar matang demi kesehatan tubuh.
Suara.com - Telur sudah lamamenjadi bahan makanan favorit masyarakat Indonesia. Selain harganya ramah di kantong dan mudah diolah, telur terkenal kaya akan protein tinggi yang menyehatkan tubuh.
Namun, di tengah masyarakat kerap beredar mitos bahwa mengonsumsi telur mentah atau telur setengah matang berkhasiat meningkatkan stamina dan vitalitas.
Banyak yang percaya kondisi mentah jauh lebih fresh sehingga nutrisinya terserap utuh. Lantas, makan telur mentah apakah aman? Simak fakta medisnya berikut ini!
Mitos Telur Mentah Penambah Stamina
Anggapan bahwa telur mentah lebih bernutrisi ternyata hanyalah mitos belaka. Secara medis, telur mentah justru lebih sulit dicerna tubuh karena ikatan proteinnya masih kuat.
Sementara itu, tubuh memerlukan usaha ekstra keras untuk memecah ikatan tersebut menjadi asam amino. Proses pencernaan yang lambat inilah yang memicu rasa kenyang bertahan lebih lama.
Efek kenyang panjang inilah yang kerap disalahartikan sebagai tambahan stamina saat beraktivitas atau berolahraga. Padahal faktanya tidak demikian.
Bahaya Keracunan Bakteri Salmonella
Di balik klaim kesegaran tersebut, makan telur mentah menyimpan ancaman serius berupa keracunan makanan. Risiko terbesar dari kebiasaan ini adalah terinfeksi bakteri Salmonella yang memicu penyakit Salmonellosis.
Merujuk penjelasan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bakteri Salmonella hidup secara alami di saluran pencernaan unggas.
Bakteri berbahaya ini mudah mencemari telur melalui pori-pori maupun retakan halus pada cangkang. Jika tertelan, Salmonella dapat berkembang biak dan menginfeksi sistem pencernaan manusia.
Rentan bagi Bayi, Ibu Hamil, dan Lansia
Dampak infeksi Salmonella tidak boleh dipandang sebelah mata. Anak usia balita bahkan memiliki risiko hingga 4 kali lipat lebih tinggi mengalami gejala keracunan parah dibandingkan orang dewasa.
Selain balita, ibu hamil dan kelompok lanjut usia (lansia) juga rentan terkena dampaknya, jika mengonsumsi telur yang belum matang.
Gejala Salmonellosis biasanya muncul 12 hingga 72 jam setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi. Gejalanya meliputi: muntah-muntah, demam tinggi, diare berdarah, hingga dehidrasi parah.
Jika dehidrasi berat tidak segera ditangani secara medis, kondisi ini dapat berakibat fatal dan membahayakan jiwa.
Sebaiknya mengonsumsi telur yang sudah benar-benar matang dan diolah dengan tepat. Bagian putih dan kuning telur harus dimasak hingga mengeras.
Telur yang sudah matang harus dikonsumsi segera dan tidak dibiarkan dalam suhu ruang lebih dari 2 jam agar nutrisi tetap terjaga serta menghindari kontaminasi kuman.