Suara.com - Di balik tekstur cangkang telur yang rapuh dan aromanya yang amis, ternyata limbahnya bisa menyimpan potensi besar sebagai bahan baku pupuk organik yang selama ini kerap disepelekan. Indonesia sendiri bukan pemain kecil dalam urusan telur.
Menurut penelitian yang berjudul Biotechnological Application of Eggshell: Recent Advances pada 2021, Indonesia masuk lima besar negara produsen telur ayam dunia, dengan kelima negara itu menyumbang sekitar 63 persen dari total produksi telur global yang mencapai sekitar 1.652 miliar butir atau 99 juta ton pada 2019 bersama dengan China, Amerika Serikat, India, dan Meksiko. Konsekuensinya jelas: semakin banyak telur dikonsumsi, semakin besar pula tumpukan cangkang yang dibuang.
Skalanya memang sulit dibayangkan jika hanya melihat satu cangkang di tempat sampah dapur. Namun secara global, produksi telur ayam dunia pada 2018 mencapai lebih dari 76,7 juta metrik ton, dan sekitar 2,3 juta ton di antaranya berakhir sebagai limbah cangkang.
Riset lain yang dipublikasikan di jurnal Trends in Food Science & Technology bahkan memperkirakan angka limbah cangkang telur global mencapai sekitar 8,58 juta metrik ton pada 2018 dan itu belum termasuk cangkang dari rumah tangga yang jarang tercatat.
Jika dibiarkan menumpuk bersama sampah organik lain, cangkang telur bisa menimbulkan masalah lingkungan, mulai dari menyumbat saluran air hingga menimbulkan bau tak sedap.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali (Distanpangan Bali) dalam publikasi resminya menegaskan bahwa cangkang telur dapat dimanfaatkan bahkan mempunyai nilai ekonomi, mulai dari pupuk, pakan ternak, bahan pangan, hingga kerajinan tangan.
Kaya Kalsium, Baik untuk Tanah
Secara komposisi, cangkang telur bukan sekadar limbah kosong. Menurut penjelasan Distanpangan Bali, cangkang telur mengandung 95,1 persen garam-garam organik yang sebagian besar berupa kalsium karbonat, serta sisanya bahan organik dan sedikit air. Kandungan kalsium yang tinggi inilah yang membuatnya berguna bagi tanaman, yakni untuk memperkuat dinding sel, mencegah pembusukan, menangkal hama, sekaligus menyuburkan tanah.
Temuan ini sejalan dengan riset internasional. Riset yang diterbitkan di International Journal of Sustainable Agricultural Research menguji langsung efektivitas cangkang telur pada tanaman kemangi (basil).
Hasilnya, larutan "teh cangkang telur" dengan pengenceran 20 kali terbukti secara statistik lebih efektif mendorong pertumbuhan tanaman dibanding cangkang yang hanya ditumbuk dan ditabur langsung ke tanah.
Bahkan, efektivitas larutan tersebut disebut sebanding dengan pupuk kimia kalsium nitrat yang selama ini lazim dipakai petani. Namun para peneliti mengingatkan, manfaat kalsium dari cangkang telur biasanya tidak instan, perlu waktu sebelum unsur ini benar-benar terserap tanah, dan efeknya paling terasa pada tanah yang cenderung asam.
Dua Cara Sederhana Mengolahnya
Distanpangan Bali menjabarkan dua metode praktis mengubah cangkang telur menjadi pupuk. Pertama, cara paling sederhana yakni, cangkang dihancurkan dengan ditumbuk atau diremas hingga menjadi serpihan kecil, lalu ditaburkan langsung di sekitar tanaman.
Kedua, membuat larutan cangkang telur. Caranya, cangkang dibersihkan lebih dulu, kemudian direbus dalam air panas selama 5–10 menit untuk sterilisasi. Setelah itu dijemur hingga kering, ditumbuk halus, lalu dicampur air hingga membentuk larutan berkonsentrasi sekitar 10 persen. Larutan inilah yang kemudian disiramkan ke tanaman secara berkala.
Metode serupa juga dipraktikkan di berbagai negara. Sejumlah panduan pertanian internasional menyarankan agar cangkang yang sudah dihaluskan ditaburkan tipis di sekitar pangkal tanaman dan dicampur ringan dengan lapisan tanah permukaan, alih-alih hanya direndam air biasa yang hanya melepaskan sedikit kalsium.
Di tengah ketergantungan pertanian pada pupuk kimia yang harganya kerap melambung, cangkang telur menawarkan alternatif yang murah, mudah didapat, dan tidak memerlukan teknologi rumit. Dalam skala rumah tangga, langkah ini juga sekaligus mengurangi volume sampah organik yang dibuang setiap hari.
Penulis: Inesia Dian