Kemenyan Berpotensi Jadi Bahan Parfum dan Aromaterapi, Bagaimana Manfaatnya bagi Masyarakat?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 16:10 WIB
Getah Kemenyan yang keluar di sela-sela serat batang pohon. (dok. Mongabay Indonesia/Barita N. Lumbanbatu)

Suara.com - Kemenyan selama ini lekat dengan tradisi masyarakat Indonesia. Namun, getah aromatik dari pohon kemenyan juga berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku produk modern, seperti parfum dan aromaterapi.

Pengembangan ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya hayati lokal. Namun, inovasi produk perlu diiringi keterlibatan masyarakat dan pengelolaan bahan baku yang berkelanjutan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan potensi tersebut melalui Pelatihan Formulasi Parfum Aromaterapi Berbasis Kemenyan. Kegiatan ini diselenggarakan Pusat Riset Botani Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, bersama Direktorat Pengembangan Kompetensi, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN.

Kepala Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Muhammad Imam Surya, mengatakan Indonesia memiliki beragam tanaman aromatik dengan karakteristik berbeda di setiap wilayah. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui penguasaan teknologi dan formulasi.

"Indonesia memiliki beragam tanaman aromatik dengan karakter dan keunikan yang berbeda di setiap wilayah. Potensi ini perlu kita manfaatkan dan kembangkan melalui penguasaan teknologi dan formulasi," ujar Imam.

Pengembangan ini menunjukkan pentingnya mengolah bahan alam lokal menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar menjualnya sebagai bahan mentah.

Hilirisasi dan Peluang bagi Masyarakat

Hilirisasi menjadi salah satu cara untuk menghubungkan hasil penelitian dengan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Namun, proses tersebut perlu diikuti dengan akses terhadap keterampilan, pendampingan usaha, dan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat.

Ketua Tim Layanan Pengembangan Kompetensi SDM Nasional/Iptek BRIN, Alpha Fadila Jualian Rahman, berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan kompetensi peserta, tetapi berlanjut hingga tahap hilirisasi.

"Pelatihan ini tidak hanya bertujuan memberikan penguatan kapasitas dan kompetensi, tetapi juga diharapkan dapat dilanjutkan pada tahap hilirisasi," katanya.

Ia menyoroti peluang pengembangan parfum aromaterapi berbasis kemenyan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun industri. Pendampingan serta penguatan skema bisnis dapat menjadi langkah lanjutan agar pengetahuan yang diperoleh peserta bisa diterapkan dalam pengembangan produk.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Aswandi, juga menekankan pentingnya menghubungkan penelitian dengan penerapan nyata.

"Riset tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga perlu didiseminasikan menjadi teknologi tepat guna agar manfaat dan pentingnya riset dapat lebih cepat dirasakan masyarakat," ujarnya.

Pelatihan ini melibatkan peneliti, teknisi, akademisi, mahasiswa, pelaku UMKM, dan masyarakat yang tertarik mengembangkan produk berbasis kemenyan.

Menjaga Keberlanjutan Bahan Baku

Di balik peluang ekonomi tersebut, keberlanjutan sumber bahan baku perlu mendapat perhatian. Peningkatan permintaan kemenyan perlu diimbangi pengelolaan tanaman dan praktik pemanenan yang bertanggung jawab agar tidak menimbulkan tekanan terhadap sumber daya alam.

Masyarakat yang selama ini mengenal dan memanfaatkan kemenyan juga perlu dilibatkan dalam pengembangan rantai nilai produk. Akses terhadap pengetahuan, peluang usaha, dan kemitraan yang adil dapat membantu memperluas manfaat ekonomi dari pengolahan komoditas ini.

Meski demikian, pelatihan BRIN tersebut belum menjelaskan dampak hilirisasi terhadap pendapatan petani maupun kondisi lingkungan di wilayah penghasil kemenyan.

Karena itu, pengembangan kemenyan menjadi produk modern perlu dilihat lebih luas. Nilainya tidak hanya terletak pada aroma atau peluang pasar, tetapi juga pada kemampuan inovasi membuka manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

Hilirisasi yang berkelanjutan bukan sekadar mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai jual. Prosesnya juga perlu memastikan bahwa inovasi berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat yang menjadi bagian dari rantai pemanfaatannya.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com