-
BRIN merancang sensor cerdas dari limbah rumput laut guna mengawasi kualitas pangan program MBG.
-
Sensor kolorimetri mendeteksi perubahan pH makanan secara visual dari bahan mentah hingga siap saji.
-
Perangkat ini dipadukan dengan sensor gas dan AI untuk mencegah insiden keracunan massal.
Suara.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengandalkan ekstraksi limbah rumput laut jenis sargasum untuk merancang sensor cerdas yang mendeteksi kesegaran pangan, khusus untuk MBG basi. Inovasi ini ditujukan khusus guna memperketat pengawasan kualitas makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Athanasia Amanda Septevani menjelaskan teknologi sensor kolorimetri ini memanfaatkan alginat selulosa ampas sargasum dan senyawa antosianin yang peka terhadap pergeseran kadar keasaman. Perubahan warna secara visual akan langsung terlihat begitu kualitas bahan makanan mulai menurun.
Inovasi tersebut menawarkan terobosan baru dalam sistem kontrol keamanan pangan berbasis bahan alam lokal yang efisien. Metode ini menggantikan prosedur pengujian laboratorium konvensional yang memakan waktu lama.
"Jadi, makanan yang dimakan bapak-bapak sekalian itu ketika dia mengalami penurunan kualitas, dia itu akan mengalami perubahan pH," katanya, dikutip dari Antara, Selasa (30/9/2026).
Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Athanasia Amanda Septevani, menyampaikan hal tersebut di sela kegiatan Gender Equality Learning Program (GELP) Symposium di Jakarta, Selasa.
Penggunaan indikator canggih ini diproyeksikan menjadi benteng utama dalam mengamankan seluruh alur distribusi bahan makanan. Pemantauan ketat dilakukan menyeluruh mulai dari bahan mentah hingga masakan siap saji.
"Jadi, sensor deteksi ini nanti kita integrasikan juga dengan sensor gas semikonduktor kita. Dia bisa mengetahui kualitas pangan, supply chain dari MBG itu, dari yang mentah, sampai yang masak," ujarnya.
Titik kritis risi pembusukan justru sering muncul sejak bahan baku belum diolah di dapur penerima. Pembacaan kondisi kesegaran secara langsung menjadi kunci utama untuk mengantisipasi potensi keracunan massal.
Skema ini mendeteksi fase krusial saat bahan makanan berada di batas antara segar, setengah segar, hingga membusuk. Data perubahan warna visual nantinya dipadukan dengan sensor gas, analisis kimia, dan kecerdasan buatan (machine learning).
Inovasi riset ini lahir sebagai bentuk dukungan teknologis terhadap berbagai program strategis nasional. BRIN fokus menciptakan alat pemantau guna mengeliminasi risiko pembusukan makanan pada wadah sajian.
Sebelumnya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria menyebutkan pihaknya mengembangkan berbagai riset yang menunjang program prioritas pemerintah, salah satunya alat deteksi untuk mencegah gas pembusukan di dalam ompreng MBG.
"Salah satu contohnya adalah Food Guard, perangkat yang ditempatkan pada ompreng untuk mendeteksi gas pembusukan dengan menggunakan multi-sensor dan model AI," ucap Arif Satria.