Apa Itu Single Rope Technique, Cara Aktivis Greenpeace Panjat Patung Bundaran HI

Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:03 WIB
Aksi Greenpeace di Bundaran HI kritik lambannya penanganan kebakaran hutan era pemerintahan Prabowo. (Greenpeace)
BACA 10 DETIK
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk krisis iklim di Patung Selamat Datang Bundaran HI pada Selasa, 20 Oktober 2026.
  • Para aktivis menggunakan metode Single Rope Technique untuk memanjat struktur monumen vertikal tanpa merusak cagar budaya tersebut.
  • Aksi protes damai ini menuntut komitmen pemerintah dalam menangani krisis iklim serta menghentikan ketergantungan energi fosil.

Suara.com - Publik kembali dihebohkan dengan aksi spektakuler para aktivis Greenpeace Indonesia yang memanjat Monumen Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).

Dari atas ikon ibu kota setinggi 30 meter tersebut, mereka membentangkan spanduk raksasa bertuliskan pesan krisis iklim "Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?".

Bagi masyarakat awam, melihat sejumlah orang berada di puncak monumen tanpa tangga tentu menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana cara mereka bisa memanjat patung berstruktur vertikal dan licin tersebut tanpa merusak cagar budaya?

Jawabannya terletak pada penggunaan teknik panjat khusus bernama Single Rope Technique (SRT).

Lantas, apa itu Single Rope Technique dan bagaimana metode ini bekerja dalam aksi-aksi penjelajahan hingga pemanjatan ekstrem?

Sejumlah aktifis Greenpeace membentangkan spanduk yang bertema krisis iklim di Bundaran HI, Jakarta, Selasa (20/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Apa Itu Single Rope Technique (SRT)?

Single Rope Technique (SRT) adalah metode pemindahan posisi, baik naik (ascending) maupun turun (descending) di medan vertikal dengan menggunakan satu utas tali statis sebagai jalur utama.

Berbeda dengan teknik panjat tebing konvensional (rock climbing) yang mengandalkan pijakan tebing atau teknik lead climbing dengan dua tali, SRT memungkinkan seseorang bergerak menggantung sepenuhnya pada tali statis tersebut.

Teknik SRT awal mulanya populer dalam kegiatan penjelajahan goa vertikal (caving) dan perawatan pohon tinggi (arboriculture).

Namun, dalam perkembangannya, SRT menjadi standar teknis bagi rope access industri (pembersihan gedung tinggi), tim penolong (SAR), serta aktivis lingkungan profesional untuk aksi pembentangan spanduk (banner drop).

Bagaimana Aktivis Greenpeace Menggunakan SRT di Bundaran HI?

Monumen Patung Selamat Datang tidak memiliki akses tangga luar. Untuk mencapai puncaknya tanpa merusak struktur patung, para pemanjat Greenpeace memanfaatkan kombinasi SRT dan rope access:

Akses Tali Pertama (Line Throwing): Sebelum memanjat, aktivis memanfaatkan pelontar beban (throwline) untuk melewatkan tali tipis di bagian atas monumen. Tali tipis ini kemudian digunakan untuk menarik tali statis berstandar khusus (diameter 10,5 mm – 11 mm) ke atas hingga terpasang sempurna.

Penambatan (Anchoring): Ujung tali di bagian bawah diamankan pada tumpuan kokoh (ground anchor). Pelindung tali (rope protector) dipasang di titik-titik tumpuan atas agar gesekan tidak merusak tali maupun permukaan patung.

Meniti Naik (Ascending): Pemanjat yang mengenakan harness memasang dua alat mekanis penjepit tali, yaitu Chest Ascender (penjepit dada) dan Hand Ascender (penjepit tangan) yang terhubung ke tali pijakan kaki (foot loop).

Dengan mendorong pijakan kaki dan memindahkan alat naik secara bergantian, pemanjat bisa "meniti" tali hingga ke puncak tanpa perlu menyentuh dinding patung.

Pembentangan Spanduk: Begitu mencapai posisi atas, pemanjat mengamankan diri memakai lanyard (cowstail), lalu mengulur spanduk raksasa yang ditarik dari bawah.

Meluncur Turun (Descending): Setelah aksi selesai, alat naik dilepas dan digantikan dengan alat turun (descender). Pemanjat meluncur turun secara terkendali menggunakan kontrol gesekan alat. Dalam momen ini, para aktivis Greenpeace turun dengan cara flying fox dibantu oleh petugas pemadam kebakaran.

"Terima kasih tim Damkar! Kapan lagi bisa flying fox di Bundaran HI," kata Greenpeace mengakhiri aksinya di patung HI.

Aksi Protes Greenpeace

Aksi nekat pemanjatan di Bundaran HI hari ini merupakan bagian dari kampanye penyadaran publik dan kritikan terbuka terhadap penanganan bencana lingkungan hidup.

Dalam seruan aksinya, Greenpeace menyoroti meningkatnya frekuensi bencana ekologis di Indonesia akibat krisis iklim mulai dari banjir bandang, kekeringan ekstrem, kebakaran hutan hingga ancaman krisis pangan yang kian menghimpit ekonomi masyarakat.

Melalui pesan di spanduk Bundaran HI, mereka menuntut komitmen tegas dari pemerintah untuk menghentikan ketergantungan pada energi fosil dan mempercepat transisi energi bersih demi keselamatan generasi mendatang.

Meskipun aksi berlangsung tertib, para pemanjat akhirnya diturunkan oleh petugas keamanan gabungan dan dimintai keterangan terkait izin akses lokasi cagar budaya tersebut.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com