Ajak Generasi Muda Kenali Akar Budaya, Warisan Leluhur Toga Sinaga Kembali Dilestarikan

Senin, 26 Oktober 2026 | 11:05 WIB
Ajak Generasi Muda Kenali Akar Budaya, Warisan Leluhur Toga Sinaga Kembali Dilestarikan. [Istimewa]
BACA 10 DETIK
  • Organisasi PPTSB Sedunia memanfaatkan akun TikTok resmi untuk mengenalkan situs sejarah Mual Toga Sinaga di Samosir.
  • Sejak 9 Oktober 2026, kegiatan pelestarian diintensifkan lewat rangkaian acara adat serta peletakan batu pertama pembangunan kawasan.
  • Gerakan digital ini bertujuan agar generasi muda di perantauan tetap mengenal dan melestarikan warisan leluhur marga mereka.

Suara.com - Media sosial kini tak hanya menjadi tempat berbagi hiburan dan tren sehari-hari, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda.

Hal inilah yang dilakukan Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boru (PPTSB) Sedunia melalui akun TikTok @pptsbpusatofficial untuk mengangkat kembali warisan leluhur Mual Toga Sinaga di Desa Urat II, Samosir, Sumatera Utara.

Upaya ini menjadi cara untuk mempertemukan sejarah leluhur dengan kebiasaan generasi muda yang akrab dengan platform digital.

Melalui video dokumentasi, cerita adat, hingga prosesi napak tilas, PPTSB Sedunia ingin memperkenalkan kembali situs yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi keturunan Toga Sinaga.

Sejak 9 Oktober 2026, kegiatan pelestarian tersebut diintensifkan melalui rangkaian acara adat dan peletakan batu pertama pembangunan kawasan Mual Toga Sinaga.

Wakil Ketua Umum PPTSB sekaligus penasihat pembangunan, Sairon Sinaga, mengatakan gerakan ini dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap semakin banyaknya keturunan Toga Sinaga di perantauan yang tidak lagi mengenal sejarah keluarga dan asal-usul marganya.

Mual Toga Sinaga sendiri dipercaya memiliki hubungan erat dengan sejarah kehidupan leluhur. Mata air tersebut juga dimaknai sebagai simbol kesucian, kesuburan, dan kesinambungan garis keturunan.

Konten yang dipublikasikan melalui TikTok mencakup ritual pembersihan mata air secara adat, penelusuran situs, serta kisah lisan dari para tetua yang menjaga warisan tersebut secara turun-temurun.

Parluhutan Sinaga, yang menghibahkan tanah lokasi Mual Toga Sinaga kepada seluruh keturunannya, menilai pelestarian budaya penting dilakukan agar generasi mendatang tidak kehilangan akar sejarah.

“Kami harus masuk ke ruang di mana anak-anak muda kita berada. Kami tidak bisa memaksa mereka kembali ke kampung dengan cara-cara lama. Kami harus menjemput mereka di dunia digital. Melalui TikTok kami sampaikan bahwa adat itu tidak kuno, adat itu hidup dan relevan,” katanya dalam pernyataan resminya.

Sementara itu, Hasudungan Sinaga menekankan bahwa mata air tersebut bukan sekadar situs bersejarah, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

“Mual Toga Sinaga adalah pangurason. Airnya adalah air kehidupan. Dahulu opung kita menggunakan air dari mual ini sebagai sumber kehidupan dan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat Desa Urat II, Samosir. Menjaga mual berarti menjaga berkah leluhur,” bebernya.

Bagi Oppung Gilbert Sinaga, penjaga Mual Toga Sinaga, kehadiran konten digital menjadi kesempatan bagi keturunan yang tinggal jauh dari kampung halaman untuk mengenal warisan leluhur mereka.

Gerakan ini selanjutnya akan dibawa ke Musyawarah Besar XVI PPTSB Sedunia di Hotel Aryaduta Medan pada 29 Oktober hingga 1 November 2026.

Melalui pendekatan digital, PPTSB Sedunia berharap tradisi dan sejarah Batak tetap dikenal, dekat dengan generasi muda, serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com