/
Rabu, 26 April 2023 | 17:07 WIB
Ilustrasi kaleng biskuit. ((Pixabay))

LINIMASA - Momentum lebaran lumrah dengan aneka kudapan seperti kue kering dan rombongannya. Kue kaleng menjadi menu wajib yang harus hadir di punggung meja tamu. 

Kaleng tersebut kadang berisi biskuit asli ataupun sudah diisi ulang dengan kudapan seperti rengginang, kerupuk ataupun opak--kerupuk ketan khas Jawa Barat. 

Namun kaleng tersebut ternyata cukup berbahaya bagi anak-anak. Insiden tak mengenakkan terjadi di Lapangan Pors, Keluarahan Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat pada Selasa (25/4/2023), kemarin. 

Seorang anak bernama Bisma (2 tahun) menangis histeris lantaran kaleng biskuit menyangkut di kepalanya. Bocah tersebut kesulitan melepas kaleng bundar yang terkunci di kepalanya. 

Guna melepaskan kaleng tersebut, petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Pusat harus turun tangan. Perwira Pket Sudin PKP Jakarta Pusat Marwoto mengaku awalnya mendapat kunjungan dari orang tua korban. 

Seorang bocah bernama Bisma (2), menangis histeris saat kaleng biskuit menyangkut di kepalanya. (Foto dok. petugas) (sumber:)

Ada seorang anak yang nangis histeris karena kepalanya masuk ke dalam kaleng biskuit. Insiden tersebut terjadi saat sang anak memainkan kaleng biskuit tersebut, lalu dengan sengaja menyarungkan kaleng biskuit ke kepalanya. 

Nahas, kaleng tersebut terkunci dan tak bisa dilepas. Alhasil, petugas damkar pun berhasil melepaskan kaleng biskuit dari kepala korban menggunakan bantuan alat pertukangan mini grinder

“Anak tersebut sedang memainkan kaleng biskuit, dan dengan sengaja kaleng tersebut dimaksudkan kepalanya. Namun setelah dicoba dilepas kaleng tersebut sulit untuk dilepaskan,” kata Marwono, saat dikonfirmasi Rabu (26/4/2023), melansir suara.com.

Tak berselang lama, akhirnya kaleng tersebut berhasil dilepas dari kepala anak tersebut. Anak itupun tak mengalami luka sedikit pun. 

Baca Juga: Tunaikan Mudik Lebaran, Ariel Noah Tunggangi si Kuda Besi Bikin Warganet 'Kerasukan'

Marwono mengatakan cukup kesulitan melakukan penyelamatan tersebut, karena korban tak mau diam dan nangis histeris juga ketakutan. 

“Si Anak menangis histeris dan enggak bisa diam karena ketakutan,” tutup Marwono.

Load More