Ayah Cristalino David Ozora, Jonathan Latumahina mengatakan putranya terancam tak bisa sekolah lagi usai menjadi korban penganiayaan Mario Dandy Satriyo. Pasalnya kata Jonathan, putranya saat ini masih menjalani dua terapi untuk pemulihan kondisinya
"Memang benar dia (David) nggak akan bisa sekolah lagi sampai batas waktu yang kita belum tahu. Kemudian juga terapi-terapi yang dilakukan saat ini sangat ketat, sehingga David masih tetap di ICU," ujar Jonathan usai menghadiri sidang pelaku kasus penganiayaan terhadap anaknya, AG yang dikutip Mamagini dari Youtube Kompas TV, Senin (3/4/2023).
Petinggi GP Ansor itu menyebut proses terapi yang dijalani David dengan protokol kesehatan yang ketat. Kata Jonathan, masa observasi untuk terapi David membutuhkan waktu 6 bulan hingga 1 tahun.
"Komunikasinya juga masih satu arah. Kita harus menebak-nebak asesmen dokter menyampaikan butuh 6 bulan sampai 1 tahun," tutur dia.
Jonathan mengungkapkan kondisi putranya sempat mengalami demam hingga 38,4 derajat celsius. Kata Jonathan kondisi yang dialami David akan terus terjadi untuk pasien yang terkena Diffuse axonal injury.
"Kemarin Jumat (31 Maret 2023), dia (David) sempat panas sampai 38,4 . Hal ini akan terus terjadi untuk pasien yang terkena Diffuse axonal injury," ucap Jonathan.
Dalam kesempatan tersebut, Jonathan meminta doa kepada masyarakat agar putranya diberikan kesembuhan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat dan warganet yang sudah mendoakan David yang kini masih berada di ICU Ruah Sakit Mayapada usai menjadi korban penganiayaan anak pejabat Ditjen Pajak, Rafael Alun Trisambodo, Mario Dandy Satriyo.
"Saya mohon doa karena ini nggak akan bisa berlalu dengan cepat kalau tanpa saudara mendoakan netizen semua yang gak kenal saya ucapkan terima kasih luar biasa sampai dengan hari yang ke 43 ini anak saya sudah mengalami sedikit progres. Terima kasih," katanya.
Sebelumnnya, Jonathan menuturkan David saat ini masih menjalani dua terapi yakni terapi kesadaran kualitatif dan terapi kesehatan, kesadaran kuantitatif.
Baca Juga: 5 Sifat Gen Z Ini Harus Diapresiasi Generasi Sebelumnya, Apa Saja?
"Pertama adalah terapi kesadaran kualitatif, dimana hal tersebut adalah yang terkait dengan kognitif, bagaimana otot bekerja dan lain-lain. Kemudian yang kedua adalah kesehatan kesadaran kuantitatif atau boleh disebut juga motorik," kata Jonathan.
Jonathan menyebut David mengalami Diffuse axonal injury stage 2. Penyebabnya kata Jonathan Latumahina yakni trauma keras yang menyebabkan otaknya berputar dan syaraf-syarafnya putus semua. Sehingga kata dia secara medis, David mengalami koma dari hari Senin tanggal 20 Februari 2023 sampai hari Senin selanjutnya atau komanya selama 8 hari.
"Untuk menyatakan koma atau tidak itu RS punya skala namanya glasgow coma scale. Orang sadar itu skalanya 15. David ketika masuk itu 3, artinya apa? Glasgow coma scale ini parameternya ada tiga yang pertama ada respons penglihatan, kedua respons pendengaran, yang ketiga respons gerak. Nah, David tiga, artinya masing-masing satu. Arti lebih gampangnya lagi seperti orang meninggal tapi masih bernapas karena ketika disenter matanya tidak ada respons sama sekalin, itu terjadi," ungkap Jonathan.
Selain itu Jonathan menjelaskan usai mengalami koma selama delapan hari, David sudah bisa membuka mata meski belum sadar. Karena itu kata Jonathan, tim dokter melakukan banyak operasi kepada David.
"Tim Dokter Mayapada melakukan banyak sekali tindakan banyak sekali operasi, termasuk membuat lubang di trakea di tenggorokan supaya Bypass oksigen masuk ke paru-parunya, karena Diffuse axonal injury stage 2 bisa pulih ketika oksigen bisa nyampe ke otak," papar dia.
Lebin lanjut, petinggi GP Ansor itu menyebut kondisi David kini mengalami kemajuan usai menjalani banyak terapi.
"Kondisi terakhir sampai saat ini sudah mengalami banyak terapi sudah mengalami kemajuan tetapi yang kuantitatif. Artinya dia bisa boker, dia bisa pipis secara otomatis seperti kita kalau kebelet. Lalu dia bisa menelan dan lain-lain, tetapi kesadaran kualitatifnya belum. Jadi sekarang kalau saya sering posting di medsos menunjukkan hal-hal yang dia respon di awal senyum, menangis itu adalah harapan-harapan kesadaran kualitatifnya pulih," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- 7 Aturan Feng Shui Kamar Tidur yang Baik untuk Rezeki
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
Pilihan
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
Terkini
-
1 Warga Tewas Akibat Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah, 312 Jiwa Terdampak
-
Kritik Masjid Megah, Dedi Mulyadi: Jangan Sampai Jadi Tempat Selfie Bukan Tempat Tafakur
-
Apakah 'Nyanyian' Sony Sonjaya Bisa Jadi Kunci Bongkar Akar Korupsi MBG?
-
Anak Korban Pembunuhan di Gelam Serang Murka: Ibu Saya Tak Minta Uang, Justru Dia yang Matre
-
BEM Bersatu Tuding Ada Sosok Eks Petinggi Militer di Balik Aksi Demo Mahasiswa Tolak MBG
-
Guntur Romli Cium Motif Lain BEM Bersatu: Dari Mana Dana Bikin Konferensi Pers?
-
Pelatih Senegal Pape Thiaw: Salat Dulu Baru Piala Dunia
-
HP Murah Anyar, Tecno Spark 50 Pro Usung Sensor Sony dan Baterai Jumbo
-
Start Apik di Piala Dunia 2026, Salem Al-Dawsari Syukuri Hasil Imbang Lawan Uruguay
-
Catat Tanggalnya! Jadwal Resmi SPMB SD Kabupaten Bogor 2026 dan Daftar 10 Sekolah Favorit