/
Selasa, 25 Juli 2023 | 12:57 WIB
Menko Polhukam Mahfud MD [Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden]

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD disebut hanya pencitraan dalam menyikapi berbagai masalah negara.

Ketika itu, ia ditanya di Podkabs atau podcast resmi Sekretariat Kabinet RI saat memantau kebijakan pemerintah dan berdiskusi dengan langsung dengan warga.

Misalanya saat Mahfud berkunjung ke Natuna tahun 2021 untuk memantau batas wilayah dan kawasan perbatasan.

Namun bagi Mahfud MD, ia tak masalah dicap pencitraan karena menilai bahwa pejabat publik memang harus mencitrakan diri.

“Nggak apa-apa. Saya sering dibilang pencitraan. Lah kan memang pejabat itu harus mencitrakan dirinya baik ya,” katanya, seperti dikutip Hops.ID dari kanal YouTube Sekretariat Kabinet RI pada Selasa, 25 Juli 2023 via hops.id.

“Kecuali ingin pencitraan untuk dapat sesuatu yang lain. Kalau agar saya dinilai baik oleh masyarakat kan tidak apa-apa,” sambungnya.

Mahfud juga menceritkaan sikapnya soal “pencitraan” ketika Indonesia dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

“Dulu kenapa orang sering ngeritik seseorang itu waktu zaman Pak SBY ya, ‘Itu Pak SBY kerja seperti itu untuk pencitraan’,” kata Mahfud MD.

“Saya bilang, saya nulis, waktu itu yang ngritik Pak Adnan Buyung Nasution. Saya nulis di koran, ‘Lah kan memang orang harus mencitrakan dirinya bagus. Masa mau buat pencitraan jelek?’,” tambahnya.

Baca Juga: Momen Lamaran Anak Disorot Gara-Gara Seserahan Mewah, Hotman Paris: Biasa Aja, Sesuai Adat

Menurut Mahfud MD, pejabat publik justru perlu pencitraan agar masyarakat bisa memiliki gambaran atau citra terkait sang pejabat.

“Kalau saya jadi Presiden ya bekerja, biar rakyat punya gambaran, citra, ya itu bagus, gitu. Kan tidak apa-apa. Oleh sebab itu saya ndak peduli (orang bilang) ‘Eh, Pak Mahfud tu begitu pencitraan.’ Iya memang, mau apa?” katanya

Load More