/
Jum'at, 11 Agustus 2023 | 12:25 WIB
Yenny Wahid (Instagram/@yennywahid)

Elektabilitas calon wakil presiden yang berlatar belakang Nahdlatul Ulama yakni Muhaimin Iskandar, Khofifah Indar Parawansa, dan Yenny Wahid memiliki elektabilitas rendah berdasarkan hasil riset politik Parameter Politik, yang didirikan oleh Adi Prayitno.

Berdasarkan survei, hanya satu nama yang muncul. Namun elektabilitasnya tetap rendah.

“Yang muncul di survei sebagai cawapres itu hanya Khofifah, tapi Khofifah kan kecil suaranya, masih di bawah nama-nama besar [bakal] cawapres lain, masih di bawah Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Erick Thohir, AHY [Agus Harimurti Yudhoyono]. Khofifah itu cuma masuk lima besar capres, tapi selisih dengan nama-nama cawapres lain, yang tadi saya sebutkan itu jauh,” ujar Adi menjelaskan dikutip dari BBC--jaringan suara.com.

Muhaimin Iskandar atau Cak Imin juga dianggap memiliki elektabilitas yang rendah dan "masih di kisaran satu atau dua persen."

“Yenny, sebaliknya popularitasnya juga tidak muncul di survei. Tidak ada yang tahu Yenny itu siapa. Apalagi terkonfirmasi dengan elektabilitasnya, enggak ada,” tambah Adi.

Alasan elektabilitas Yenny Wahid rendah karena namanya baru muncul baru-baru ini, sehingga juga tidak muncul dalam survei.

Hasil penelitian Indikator Politik selama satu setengah tahun menunjukkan bahwa elektabilitas di antara ketiganya tidak jauh berbeda, dengan Khofifah muncul sebagai kader NU dengan elektabilitas tertinggi.

Adi dan Bawono bahkan menyebutkan bahwa Mahfud MD memiliki elektabilitas yang lebih tinggi daripada ketiga nama itu. Namun, Adi menyatakan bahwa "tidak ada partai yang tertarik mengusung" Mahfud MD.

Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Jangan Mengandalkan Orang Lain, Rugi Sendiri!

Load More