/
Rabu, 30 November 2022 | 10:52 WIB
Politisi PDI Perjuangan, Deddy Sitorus terlibat percekcokan sengit dengan  panitia silaturahmi relawan Nusantara Bersatu, Silfester Matutina. ((Youtube/ tvOneNews).)

Dalam acara Catatan Demokrasi yang ditayangkan dari Kanal Youtube tvOneNews, Deddy mengatakan bahwa, momen itu tidak dimanfaatkan untuk mengatakan keberhasilan pemerintah dalam presidency KTT G20 di Bali, yang menghabiskan milyaran rupiah.

Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Justru yang ada hanya relawan yang kumpul di Senayan.  Mereka mendengarkan diksi "rambut putih” sampai dengan pernyataan siap tempur relawan Jokowi.

“Kita baru saja menyelesaikan presidency G20 yang mencapai begitu banyak hal yang mempengaruhi masyarakat dunia pada masa yang akan datang, tapi hilang itu semua,” tuturnya.

“Rp 600 miliar bubar sehari gara-gara urusan di GBK. Ini seharusnya jadi diskusi publik,” lanjutnya.

Duka di Cianjur

Deddy menyayangkan acara tersebut mengingat adanya musibah yang menimpa wilayah Cianjur, Jawa Barat.

Sebagaimana diketahui, Cianjur sedang berduka pasca gempa bumi 5,6 magnitude yang menewaskan ratusan nyawa serta merobohkan banyak bangunan. 

Kata Deddy, apakah para relawan Jokowi kehilangan sensitivitas, sehingga tak bisa menunda kegiatan tersebut untuk beberapa waktu sampai persoalan Cianjur terselesaikan dengan baik.

Masyarakat Cianjur masih banyak yang membutuhkan bantuan. Seperti bantuan logistik dan juga tempat tinggal. 

Baca Juga: Upah Minimum 2023 Cuma Naik Seuprit di Tengah Ancaman Resesi Global, Mampukah Buruh Bertahan?

“Lah kita kan berpikir, apakah kita kehilangan sensitivitas sehingga kita tidak bisa menunda kegiatan itu beberapa saat saja, sampai kita merasa persoalan di Cianjur terselesaikan dengan baik. Hanya menunda. Kegiatan itu menguntungkan PDIP kok,” tuturnya.

Urgensi

Politisi PDIP ini juga bertanya-tanya apa urgensi dari acara Nusantara Bersatu hingga tak mau menundanya?. Jika hal itu mengenai penegakan hukum dan juga pekerja kontrak, Deddy menegaskan bahwa pemerintahan sangat peduli dengan isu tersebut. Bahkan DPR kerap membahasnya. 

“Kita bolak balik menerima utusan masyarakat. Presiden tahu dan a were,” ujarnya.

Deddy bertanya, apakah  acara itu begitu mendesak sehingga harus menghadirkan Jokowi. 

“Apakah ada urgent si nya menghadirkan presiden?,” tanyanya.

Load More