/
Jum'at, 16 Desember 2022 | 17:42 WIB
Nabilah eks JKT48 ([Instagram])

Nabilah Ratna Ayu Azalia, eks member girl band JKT48, mengaku pernah menolak tawaran endorse. Padahal nilai tawarannya fantastis.

Namun, Nabilah mengaku menolak tawaran itu lantaran diminta lepas hijab. Hal itu terjadi beberapa jam setelah dirinya memantapkan diri berhijab.

Cerita itu disampaikan Nabilah saat menjadi bintang tamu dalam YouTube The Leonardo's beberapa hari lalu.

"Aku itu sering diendorse clothing line. Itu baju sering endorse aku dan itu besar jumlahnya," tuturnya dikutip pada Jumat (16/12/2022).

"Belum ada satu hari berhijab, brand itu menawarkan lagi. Kalau Nabilahnya tidak berhijab nggak bisa ya? Itu baru beberapa jam setelah aku berhijab. Bismillah aku tolak karena jujur aku yakin Allah memberikan rezeki aku yang sudah tertakar."

Diketahui, Nabilah memutuskan hijrah dengan mantap memakai hijab setelah empat tahun keluar dari JKT48. Nabilah memutuskan keluar dari JKT48 pada tahun 2017 saat masih duduk di bangku kelas 3 SMA.

"Aku hijrah ada prosesnya pelan dan belum sempurna. Tapi yang aku ingat satu tahun lalu sebelum berhijab, aku selalu berdoa Ya Allah jadikan aku wanita yang sholeha. Aku selalu berdoa seperti itu," ucapnya.

Saat pandemi Covid-19, Nabilah pun mendapatkan hidayah dan banyak melakukan proses berpikir. Ia mengaku mulai merenung terkait masa depannya dan makna hidup saat sedang berada di dalam kamar mandi.

"Hijrah itu kan kita yang menjemput bukan sampai kapan dia datang. Mungkin dengan doa itu Allah memberikan aku hidayah. Waktu tahun lalu kan zaman Covid-19 (banyak) yang meninggal, ada ayah mertuanya kakak aku."

Baca Juga: Minta Ada yang Gantikan Posisinya, Status Widy di Vierratale Diungkap Kevin Aprilio

"Jadi, di mana aku merasa beberapa minggu yang lalu baru bertemu. Kok tiba-tiba sudah diambil. Aku mikir umur itu tidak ada yang tahu. Posisinya (saat itu) aku di toilet. Aku diam dan merenung."

"Apalagi yang mau gue kejar di dunia ini? Semua ada masanya. Kecantikan kan bakal memudar, tapi itu semua kan dunia tanpa kita sadari. Itu yang saat itu terbersit di seorang Nabilah pada usia 20 tahun di toilet," papar Nabilah.

Di dalam toilet itu, Nabilah mulai merenung tentang kehidupan akhirat. Terlebih hidup di dunia hanyalah sementara dan yang abadi adalah di akhirat.

"Gue sih mikirnya, iya kalau besok masih hidup. Kalau enggak, apa yang mau elu pertanggungjawabkan di akhirat, amal apa yang mau elu bawa? Di situ gw mikir," ujarnya.

Nabilah menegaskan tak ada paksaan dari orangtuanya untuk berhijab. Niat berhijab murni timbul dari dalam hatinya hasil perenungan diri.

"Akhirnya itu semua timbul dari pemikiran aku sendiri yang semakin beranjak dewasa. Karena kalau kita mati itu kita sendiri lho. Papa mama, fans dan followers tidak akan membantu kita."

"Maka di saat itu aku mikir tidak usah terlalu capek mengejar dunia. Biarin aja kamu mengejar akhirat. Nanti dunia akan ikut, begitu kata papaku. Kadang kita hidup suka lupa, ini hidup cuma sementara di dunia," ujar Nabilah.

Nabilah menambahkan, kedua orangtuanya juga terus meyakinkannya yang saat itu memang sudah ingin berhijab. Orangtuanya tak ingin di kemudian hari justru Nabilah malah lepas hijab.

"Ya sudah pelan-pelan berubah untuk menjadi lebih baik. Waktu itu hati aku gelisah. Aku tahu wanita muslim itu wajib berhijab, tapi kan semuanya butuh proses. Di hati bilang elu yakin mau berhijab? Hati masih bergejolak banget," katanya.

Untuk memantapkan hatinya, Nabilah mengaku melaksanakan shalat Istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah SWT. 

Agar hatinya semakin mantap, Nabilah shalat Istikharah untuk meminta petunjuk.

Kini ia lebih berserah diri kepada Allah dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan tak mau ambil pusing dengan komentar netizen.

"Kalau mereka yang ngefans Nabilah mereka ada yang support aku dan sudah menjadi teman apapun keputusan yang terbaik buat aku. Aku tidak ambil pusing karena niat aku hanya karena Allah. Aku nggak perlu dengar omongan orang, tapi selama ini apakah kita berpikir apa yang Allah mau," ujar Nabilah.

Load More