Untuk rumah pemberian negara kepada Megawati Soekarnoputri sendiri terletak di Jalan Teuku Umar Nomor 27 dan 29, Menteng, Jakarta Pusat. Sebelum diberikan negara, rumah yang berada di Jalan Teuku Umar merupakan rumah dinas Megawati ketika menjabat sebagai presiden. Pemberian rumah oleh negara kepada Megawati itu saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kemudian, Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima rumah dari negara yang terletak di Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan.
Rumah yang terletak di daerah elite Jakarta ini seluas sekitar 1.500 meter persegi. Rumah SBY tersebut dilengkapi fasilitas mewah. Salah satunya adalah lift yang digunakan untuk naik turun lantai. Ditaksir harga rumah SBY di Kuningan senilai sekitar Rp300 miliar.
Gus Dur Menolak
Sedangkan, presiden yang menolak pemberian rumah hanya dilakukan oleh Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Keputusan Presiden terkait pemberian rumah dari negara kepada Gus Dur dikeluarkan ketika era Presiden Megawati.
Penolakan Gus Dur tersebut mengikuti mantan Presiden Soeharto yang juga meminta hal serupa. Soeharto saat mendapatkan uang Rp 26,6 miliar sebagai pengganti harga tanah dan biaya pembangunan rumah Puri Jati Ayu di kawasan sekitar Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 1970-an.
Ketentuan dalam pemberian rumah kepada presiden juga diturunkan dalam Keputusan Presiden (Keppres). Tercatat ada dua keppres yang menjadi aturan turunannya, yakni Keppres Nomor 81 Tahun 2004 tentang Pengadaan Rumah bagi Mantan Presiden dan/atau Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia yang ditandatangani Presiden Megawati Soekarnoputri pada 27 Desember 2004.
Pada Keppres tersebut dirinci nilai maksimal rumah yang diberikan kepada presiden. Hal tersebut tertuang dalam Pasal 2 Keppres Nomor 81 Tahun 2004 yang menuliskan nilai rumah paling tinggi seharga Rp20 miliar.
"Nilai pengadaan rumah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, setinggi-tingginya Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah)."
Namun aturan tersebut kemudian beruaba pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 52 Tahun 2014, yang ditekennya pada 2 Juni 2014.
Berbeda dengan Keppres Nomor 81 Tahun 2004, pada Perpres yang ditekan SBY tidak menyebut angka maksimal secara eksplisit. Dalam pasal 4 Perpres Nomor 52 Tahun 2014. Dalam ayat satu aturan tersebut hanya tertulis anggaran pengadaan rumah bagi mantan presiden dan wakil presiden dibebankan kepada negara.
"Anggaran untuk pengadaan rumah bagi Mantan Presiden dan/atau Mantan Wakil Presiden dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c.q. Bagian Anggaran Kementerian Sekretariat Negara paling lambat pada satu Tahun Anggaran sebelum Presiden dan/atau Wakil Presiden tersebut berhenti dari jabatannya."
Kemudian juga ditulis penghitungannya dilakukan merujuk pada pengalian luas tanah dengan nilai tanah, seperti tercantum pada Pasal 4 ayat 2.
"Perhitungan penganggaran untuk pengadaan rumah kediaman bagi Mantan Presiden dan/atau Mantan Wakil Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan cara: a) Perhitungan pengadaan tanah dilakukan dengan mengalikan luas tanah dengan nilai tanah pada saat penganggaran sesuai kriteria lokasi; dan b. Perhitungan pengadaan bangunan dilakukan dengan mengalikan luas bangunan dengan harga per meter persegi pembangunan rumah dengan kualitas baik."
Sedangkan untuk penghitungan tersebut kemudian diserahkan kepada Kemenkeu dan diatur dalam Permenkeu.
"Perhitungan nilai, kriteria, luas tanah, dan luas bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan," tulis aturan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!