Suara.com - Tahun ajaran baru 2015, Sekolah Dasar Negeri Lampageu, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Provinsi Aceh, hanya mendapatkan sebelas murid baru atau tak jauh beda dengan tahun lalu yang hanya sepuluh orang. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah siswa yang diterima sekolah lain.
Kepala Sekolah SD Negeri Lampageu, Siti Halimah, mengatakan kurangnya jumlah siswa yang mendaftar lantaran lokasi sekolah yang berdekatan dengan sekolah lain.
SD Negeri Lampageu, sejak pascatsunami Aceh hanya dilirik oleh masyarakat dari dua desa sekitar yaitu Desa Lamguroun dan Desa Lambadeuk.
"Masyarakat di sekitar sini juga bamyak yang terkena tsunami sehingga jumlah penduduk dan regenerasinya juga sedikit. Makanya saban tahun jumlah siswa mendaftar juga tidak terlalu banyak," kata Halimah, Senin (27/7/2015).
Pun demikian, tutur Halimah, jumlah siswa baru yang sedikit itu telah menambah jumlah siswa SD Negeri Lampageu menjadi 64 orang.
Sekolah ini memiliki dua belas guru, empat guru di antaranya pegawai negeri sipil, sedangkan delapan lagi guru honor dan tenaga bakti.
"Memang masih banyak kekurangan yang harus dibenah, termasuk guru. Karena empat orang itu mengajar semua lokal dan beberapa pelajaran," ujarnya.
Selain persoalan kurang murid, SD Negeri Lampageu juga kekurangan buku paket mata pelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Saat ini, para siswa hanya memanfaatkan buku-buku bekas yang ditinggalkan siswa sebelumnya. Menurut Halimah, Dana Bantuan Operasional Sekolah tidak mencukupi kebutuhan sekolah.
"Karena kita muridnya sedikit, jadi dapatnya juga sedikit (dana BOS). Dana itulah kita manfaatkan untuk semua kebutuhan sekolah, termasuk membantu tenaga pengajar yang honor," kata Halimah.
SD Negeri Lampageu merupakan salah satu sekolah yang terdampak tsunami tahun 2004. Sekolah ini nyaris tak bersisa karena disapu gelombang. Sekolah kembali dibangun dalam proses rehabilitasi pascatsunami. Jerman ikut andil dalam pembangunannya.
Bangunan SD diset berupa rumah panggung. Ruang kelas seolah-olah berada di lantai dua. Pada lantai dasar, yang merupakan lapangan di set menjadi lapangan parkir dan tempat bermain para murid. [Alfiansyah Ocxie]
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Mampu Serap Banyak Karbon, Lahan Gambut Jadi Fokus Penelitian Global Untuk Perkuat Kebijakan
-
Dikenal Baik dan Suka Menolong, Menteri Koperasi Ngaku Sering Tukar Pikiran dengan Haerul Saleh
-
Haerul Saleh Wafat dalam Tragedi Kebakaran, Mentan: Beliau Selalu Mengedepankan Kepentingan Bangsa
-
Polemik Anggaran Pendidikan! JPPI Sebut Jutaan Guru Hidup dengan Upah Tak Layak
-
Kasus Pelecehan Santri Pati: Selly Gantina Ingatkan Bahaya Sembunyikan Pelaku
-
Gus Ipul Konsultasi Soal Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Rp 27 Miliar ke KPK
-
Peneliti Ungkap Hubungan Penyusutan Danau Turkana dengan Aktivitas Gempa Bumi
-
JPPI Kritik Keras SE Mendikdasmen, Guru Honorer Terancam Tersingkir dari Sekolah Negeri
-
Jadi Peternak Kambing tapi Berizin Direktur, WNA Myanmar Terancam Deportasi dari Yogyakarta
-
8 Fakta Kecelakaan Maut Bus ALS vs Truk BBM di Muratara, 16 Orang Tewas Terbakar