Suara.com - Isu agama dan etnis kembali didengungkan menjelang pilkada Jakarta. Apakah isu ini akan berpengaruh ke masyarakat Jakarta dalam menentukan pilihan?
Sebagian warga yang ditemui wartawan Suara.com mengaku sudah sadar bahwa isu tersebut dimunculkan hanya demi kepentingan politik sesaat. Sekarang, sebagian besar warga memilih pemimpin kategori pertamanya bukan latar belakang agama.
Seperti yang diungkapkan oleh Tarjono (55), warga Kampung Irian, Jakarta Pusat.
"Masyarakat seharusnya tidak terpengaruh terhadap isu SARA, karena itu hanya permainan politik dan persaingan antar calon gubernur," kata Tarjono.
Tarjono sadar bahwa Pancasila mengajarkan kepada masyarakat Indonesia untuk saling bertoleransi antara suku, agama dan ras. Dan keberhasilan memimpin daerah, kata dia, bukan diukur dari agama apa yang dianutnya, melainkan kinerja.
"Baik agama ataupun ras, kita tidak boleh membeda-bedakan karena Tuhan kita satu, mau pemimpin kita nanti beragama muslim ataupun non muslim yang pentingkan tujuannya, kinerjanya untuk membuat Jakarta lebih baik," katanya.
Senada dengan Tarjono, mahasiswa Universitas Bung Karno bernama Muhammad Novi Fediansyah (22) mengatakan bahwa masyarakat jangan lagi terpengeruh dengan isu SARA.
Bagi Ferdiansyah isu semacam merupakan salah satu wujud kampanye negatif atau black campaign. Dia mengingatkan masyarakat yang akan rugi sendiri jika ikut-ikutan mengobarkan isu SARA untuk
"Menurut saya penggunaan isu SARA merupakan salah satu bentuk black campaign. Indonesia itu negara berazaskan Pancasila yang di dalamnya tertuang persatuan dan kesatuan sebagai sebuah bangsa," kata Ferdiansyah.
Ferdiansyah juga mengingatkan kepada mereka yang mengangkat isu SARA untuk kepentingan politik agar sadar diri. Indonesia merupakan negara yang heterogen dan menunjung tinggi persatuan dan kesatuan.
"Seharusnya orang-orang yang memakai isu SARA sebagai black campaign melihat Indonesia sebagai negara multikultur yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan," katanya.
Tetapi diakui juga bahwa sebagian masyarakat Jakarta masih ada yang mengedepankan latar belakang agama untuk memilih seorang pemimpin.
Bagi pegawai swasta bernama Angga Wahyu Illahy (28) latar belakang agama merupakan pertimbangan nomor satu untuk memilih pemimpin.
"Ya karena faktor agama juga menentukan keperibadian seseorang, karena pemimpinlah nanti yang akan menuntun dan membimbing rakyatnya," kata Wahyu.
Walau latar belakang agama penting, Wahyu tetap menginginkan siapapun yang nanti terpilih di pilkada Jakarta pada 15 Februari 2017, merupakan pemimpin yang bisa membawa Ibu Kota ke arah yang lebih baik.
Berita Terkait
-
Bentrokan Matraman Jangan Dibawa ke Isu SARA, Pramono Anung: Jakarta Kota Terbuka!
-
Kawasan Pemukiman Padat Menteng Tenggulun Akan Ditata Jadi Kampung Tematik
-
Dedi Mulyadi Akui Marketnya Makin Luas Gara-Gara Sering Ngonten, Mau Nyapres?
-
Jatuh Bangun Nasib Ridwan Kamil: Gagal di Jakarta, Kini Terseret Isu Korupsi dan Perselingkuhan
-
Ashley Tanah Abang Jakarta: Hadirkan Kamar Tematik Keluarga untuk Liburan yang Lebih Seru
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan