News / Nasional
Minggu, 11 November 2018 | 16:40 WIB
Seorang warga berdiri di samping patung Sultan Ageng Tirtayasa yang teronggok di pinggir jalan setelah ditemukan terbenam di dalam lumpur. [BantenHits.com/ Mahyadi]

Epos Sulan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 - 1683. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda.

Masa itu, VOC—maskapai dagang Belanda—menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten.

Kemudian, Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar.

Dalam bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi.

Sementara dalam bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.

Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa.

Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan Saint-Martin.

Pada tahun 1683, Sultan Ageng tertangkap dan dipenjarakan di Batavia. Ia meninggal dunia dalam penjara dan dimakamkan di Komplek Pemakaman Raja-raja Banten, di sebelah utara Masjid Agung Banten, Banten Lama.

Baca Juga: Ridwan Kamil Kewalahan Jokowi Blusukan 2 Hari di Jawa Barat

Nama Sultan Ageng Tirtayasa juga kemudian diabadikan menjadi nama salah satu perguruan tinggi negeri di Banten, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Berita ini kali pertama diterbitkan BantenHits.com dengan judul "Patung Sultan Ageng Tritayasa Teronggok di Pinggir Jalan"

Load More