Suara.com - Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni enggan terpancing kala mendengar Kepala Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinan Hutahaean menyebutnya dengan badut hiburan. Juli memahami Ferdinand memiliki hak untuk menyampaikan itu.
Raja Juli sepertinya tak ingin memperpanjang 'perseteruan' PSI dengan Partai Demokrat. Salah satu contoh yang ditunjukkan Juli ialah kala tidak menyerang balik atas apa yang sudah diucapkan Ferdinand kepadanya. Alih-alih balik menyerang, Juli malah berterima kasih karena disebut badut.
"Terima kasih kepada Ferdinand yang menyebut saya sebagai badut. Beliau berhak mengomentari apa saja tentang saya dan orang lain," kata Juli kepada Suara.com, Jumat (11/1/2018).
Juli kemudian menjelaskan bahwa penilaiannya terhadap Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersifat pandangannya terhadap sosok SBY tanpa bermaksud untuk memberikan kesan negatif.
Sebelumnya Juli sempat menilai kalau sosok SBY tidak mampu mendongkrak elektabilitas Capres - Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.
"Yang pasti apa yang saya sampaikan kepada Suara.com sebelumnya adalah pendapat saya yang saya pikir sangat argumentatif," ujarnya.
Oleh karena itu, Juli tidak mau melelahkan diri untuk menanggapi apa yang disampaikan Ferdinand kepadanya. Tangannya selalu terbuka menerima bantahan-bantahan jika memang Partai Demokrat tidak terima dengan pendapat yang sudah disampaikannya.
"Kalau nggak setuju ya silahkan dibantah dengan sebutan badut atau yang lain juga nggak apa-apa. Sekali lagi terima kasih bang Ferdinand," pungkasnya.
Untuk diketahui, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menyebut Wasekjen Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo atau Jokowi - Maruf Amin, Raja Juli Antoni sebagai badut. Pasalnya, Juli dianggap tidak memiliki kapasitas memberikan tanggapan kepada Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.
Baca Juga: Artis Berusia 19 Tahun Dijual Mucikari Vanessa Angel, Berapa Tarif Kencan?
"Badut tidak mungkin menilai seorang manusia. Raja Juli itu kelasnya badut hiburan tidak mungkin punya kapasitas menilai seorang SBY yang profesor, Jenderal bintang 4 dan presiden 10 tahun," kata Ferdinand.
Berita Terkait
-
Jubir BPN: SBY, Tokoh Penentu Pemenangan Prabowo-Sandiaga
-
Remehkan SBY, Demokrat ke Raja Juli:Biarkan Badut Itu Mengoceh
-
Jelang Debat, Prabowo - Sandiaga Intensifkan Bertemu SBY
-
SBY Beri Wejangan Khusus ke Prabowo - Sandiaga Jelang Debat Perdana
-
Prabowo dan Sandiaga Datang ke Rumah SBY Sembari Salam 2 Jari
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Gus Ipul Serukan Gerakan Peduli Tetangga, Perkuat Data Lindungi Warga Rentan
-
Sudah Tiba di Jakarta, PM Australia Segera Bertemu Prabowo di Istana
-
Gus Ipul dan Kepala Daerah Komitmen Buka 8 Sekolah Rakyat Baru
-
RS Tolak Pasien karena JKN Nonaktif, Mensos Gus Ipul: Mestinya Disanksi BPJS, Tutup Rumah Sakitnya
-
Mensos Gus Ipul: RS Tak Boleh Tolak Pasien BPJS Penerima Bantuan Iuran
-
Wamendagri Wiyagus Lepas Praja IPDN Gelombang II, Percepat Pemulihan Pascabencana Aceh Tamiang
-
Kasatgas PRR Ingatkan Pemda yang Lambat Kirim Data Penerima Bantuan Bencana
-
Satgas PRR Resmikan Huntara di Tapanuli Selatan dan Tujuh Kabupaten Lain Secara Serempak
-
Kasus Tragis Anak di Ngada NTT, Pakar Sebut Kegagalan Sistem Deteksi Dini dan Layanan Sosial
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!