Suara.com - Kabar duka datang dari Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho atau Pak Topo yang baru saja dinyatakan meninggal dunia karena kanker paru pada Minggu (7/7/2019) hari ini sekitar pukul 02.00 waktu di China.
Kepergiannya tentu saja meninggalkan duka di hati masyarakat Indonesia, apalagi Sutopo dikenal sebagai humas lembaga yang sangat aktif memberikan informasi terkini mengenai bencana.
Kepada Suara.com, lelaki yang akrab disapa Pak Topo itu pernah bercerita mengenai getir kehidupan masa lalu. Saking susahnya kehidupan dulu, Sutopo sampai harus dilahirkan di tikar tetangga.
"Saya lahir bukan di rumah sakit, tapi dengan bidan di rumah, pakai tikar pinjaman tetangga," kata Pak Topo kepada Suara.com pada Maret 2018 lalu.
"Kalau dengar cerita ibu saya atau bapak saya, ya kami dari keluarga miskin. Mengontrak rumah di Boyalali, rumah gedek, bolong-bolong, dimakan rayap, lantainya dari tanah dan belum ada listrik," kenangnya lagi.
Tumbuh dari orangtua yang berprofesi sebagai guru, kehidupan Topo kecil dan keluarganya jauh dari gelimang harta.
Ia mengaku bisa makan enak hanya saat Lebaran saja, bahkan ke sekolah harus nyeker sampai kelas 5 SD.
Saat duduk di Sekolah Dasar, Sutopo juga memggambarkan dirinya sendiri sebagai bocah kampung 'bodoh, miskin dan dekil'.
Saking bodohnya, kata Sutopo, ia belum bisa membaca hingga kelas 2 SD dan pernah mendapat nilai 0 untuk pelajaran Bahasa Indonesia saat duduk di kelas 4 SD.
Baca Juga: Kepala BNPB Nilai Almarhum Sutopo sebagai Pahlawan Kemanusiaan
"Saat itu ada tugas 'lawan kata'. Lawan kata 'besar', saya tulis 'tidak besar'. Lawan kata 'panjang', saya tulis 'tidak panjang'. Dan saya dapat nol besar."
Hidup miskin dan bodoh membuat Sutopo kerap jadi bahan ledekan teman-temannya. Untungnya, Topo kecil memiliki guru baik hati yang ia sebut 'berjasa membentuk karakternya sekarang'. Ia adalah Ibu Guru Sri Suarti, guru yang tanpa sungkan memuji Topo kecil di dalam kelas.
"Saat itu, beliau puji saya sebagai anak yang rajin karena mau membantu orangtua. Saat dipuji di kelas, rasanya enak. Dari situ saya mulai sering belajar."
Topo tumbuh lebih rajin, giat dan berprestasi. Ia berhasil masuk Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, meski jurusan tersebut tidak ia harapkan. Meski awalnya ogah-ogahan, tapi Sutopo berhasil lulus dengan gelar Summa Cum Laude.
Pada November 2012 lalu, Sutopo pernah hampir diberi gelar Profesor oleh LIPI. Tetapi secara mendadak pemberian gelar tersebut dibatalkan dengan alasan Sutopo bukan sosok dari lembaga riset.
Padahal orangtua Sutopo telah membuat syukuran di kampung. Bahkan jas yang akan dikenakan sudah rapi dijahit, siap untuk dipakai. Pembatalan tersebut, tentu saja membuatnya kecewa. Tapi ayah Sutopo selalu berusaha membesarkan hatinya.
"Kata ayah saya, orang hidup tidak selamanya lurus, lempeng. Ada kalanya bertemu jurang. Itu takdir yang harus diterima, hidup tidak usah terlalu ngoyo."
Kisah hidup Almarhum Sutopo Purwo Nugroho, berjuang merangkak dari bawah sampai bisa memberikan kontribusi positif bagi negara ini semoga dapat menginspirasi kita semua.
Selamat jalan, Pak Topo! Jasamu terhadap Bangsa ini akan selalu dikenang.
Tag
Berita Terkait
-
Kepala BNPB Nilai Almarhum Sutopo sebagai Pahlawan Kemanusiaan
-
Tiba di Jakarta Malam Ini, Jenazah Sutopo BNPB akan Disemayamkan di Depok
-
Jenazah Sutopo BNPB akan Dimakamkan di Boyolali
-
Garuda Siap Bawa Pulang Jenazah Sutopo BNPB Minggu Sore Ini
-
KJRI Guangzhou Upayakan Pemulangan Jenazah Sutopo BNPB Secepatnya
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan