Suara.com - Suasana rumah duka pendiri Kompas Gramedia dan Pimpinan Umum Harian Kompas Jakob Oetama di Jalan Sriwijaya Nomor 40 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mulai ramai di datangi wartawan, Rabu (9/9/2020).
Pantauan Antara di depan kediaman duka, suasana masih sepi di rumah tersebut. Sejumlah wartawan mulai mendatangi lokasi, mayoritas adalah wartawan dari media Grup Kompas.
Menurut informasi yang diterima sejumlah wartawan di lokasi, jenazah tokoh pers nasional tersebut dibawa ke rumah duka pada pukul 17.00 WIB. Rencana akan digelar misa kematian di rumah duka selama kurang lebih satu jam. Setelah itu disemayamkan di gedung lama Kompas di Palmerah Selatan.
Sementara itu, di rumah duka sudah tampak pekerja mulai memasukkan sejumlah kursi berwarna putih ke dalam pekarangan rumah. Sejumlah orang juga membawa plastik putih berisi kembang warna merah dan hijau.
Belum ada pejabat atau tamu penting yang datang ke rumah duka. Baru pihak internal keluarga saja yang datang ke rumah pribadi almarhum.
Petugas yang berjaga-jaga di depan gerbang rumah duka menerapkan protokol kesehatan ketat bagi tamu yang datang. Terdapat satu kamar disinfektan berwarna transparan di depan rumah duka.
Sementara itu, petugas keamanan dari Kepolisian dan TNI berjaga-jaga di lokasi rumah duka mengatur lalu lintas dan tempat parkir kendaraan tamu yang datang ataupun melintas.
Jakob Oetama meninggal dunia pukul 13.05 WIB di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading di usia 88 tahun.
Baca Juga: Parni Hadi: Semoga Arwah Pak Jakob Oetama Dalam Belaian Kasih Sayang Tuhan
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit
-
Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
-
Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?
-
Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat