Suara.com - Survei PT East West Seed Indonesia (Ewindo) sebagai produsen benih sayuran hibrida bersama UPN Yogyakarta mengungkapkan konsumsi sayur masyarakat Indonesia di tengah pandemi Covid-19 masih rendah.
"Pandemi tidak membuat kesadaran masyarakat tergugah untuk mengonsumsi lebih banyak sayuran padahal masyarakat menyadari manfaatnya untuk meningkatkan imun," kata Nur Fajrina, peneliti benih dari Ewindo dalam webinar, Rabu (28/4/2021).
Survei yang dilaksanakan Nur Fajrina bekerjasama dengan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta (Dr RR Rukmowati Brotodjojo dan Dr Dwi Aulia Ningrum) menunjukkan pandemi Covid-19 tidak lantas merubah perilaku konsumsi sayuran masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia.
Survei menunjukkan konsumsi sayuran masih rendah. Walaupun masyarakat menyadari pentingnya asupan sayuran untuk menjaga kesehatan, ternyata setelah adanya pandemi tidak terjadi peningkatan konsumsi sayuran.
"Pada dasarnya masyarakat paham manfaat sayuran, namun sebagian besar tidak termotivasi untuk mengonsumsi lebih banyak sayuran," ujar Nur.
Hasil survei menunjukkan bahwa 76,4 persen responden memilih kesehatan sebagai alasan memilih sayuran dalam menu harian selama pandemi. Namun peningkatan konsumsi sayuran hanya terjadi pada 58,2 persen responden dan sisanya mengatakan tidak mengalami perubahan apa-apa.
Bahkan beberapa jenis sayur yang dikonsumsi seperti kangkung turun 11persen sementara bayam tumbuh 6 persen dan caisim 3 persen.
Pemahaman tinggi tentang manfaat sayuran tidak serta merta meningkatkan konsumsi. Kebiasaan makan tinggi karbohidrat menjadi kebiasaan yang turun menurun dan untuk mengubahnya membutuhkan usaha cukup besar.
Kebiasaan ini juga terlihat pada kecilnya pengeluaran beli sayur di masyarakat. Susenas 2019 (Badan Pusat Statistik) melaporkan pengeluaran gabungan buah dan sayur per kapita per bulan hanya sebesar Rp65.342.
Baca Juga: Mekanisme Ibadah Haji bagi Jemaah Indonesia di Masa Pandemi Covid-19
Dibandingkan pengeluaran makanan secara total pengeluaran untuk buah dan sayur hanya sebesar 11,41 persennya saja. Mengacu pada UMR tertinggi Indonesia, contoh Jakarta Rp4,4 juta, maka dana yang di keluarkan hanya berkisar dari 1,5 persen dari total pendapatan perbulan untuk buah dan sayur.
Padahal ketersediaan sayuran di Indonesia sangat mencukupi mengingat kebutuhan sayuran tidak hanya dipasok dari sentra produksi tetapi juga banyaknya rumah tangga yang menanam untuk dikonsumsi sendiri melalui kegiatan "home gardening".
Survei menunjukkan jumlah pelaku "home gardening" meningkat hampir 47 persen dengan sebaran pelaku 47,6 persen di Jawa, 31,06 persen di Sumatera, 11,91 persen di Sulawesi, 7,02 persen di Bali Nusa Tenggara, 2,13 Kalimantan dan 0,21 persen di Maluku Papua.
Survei didanai oleh Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR). ACIAR adalah badan yang beroperasi sebagai bagian dari program bantuan pembangunan Pemerintah Australia. Badan ini mendanai proyek-proyek penelitian dan pengembangan melalui kemitraan antara para peneliti Australia dan Indonesia serta pihak-pihak terkait lainnya.
Melalui program “Alumni Research Support Facility (ASRF)”, survei ini juga memperlihatkan konsumsi sayuran masyarakat cenderung tidak banyak berubah, data ini diperkuat oleh data BPS yang menyatakan konsumsi sayuran dan buah turun 0,64 persen tahun 2020 di banding tahun 2019. Jumlah konsumsi masih di 209 gram per kapita per hari sementara sesuai standar WHO idealnya konsumsi sayuran itu 400 gram per orang per hari.
Nur mengatakan pandemi Covid-19 sejak Maret tahun 2020 belum mampu menggugah kesadaran masyarakat untuk meningkatkan konsumsi sayur, walaupun tahu kandungan nutrisi di dalam sayuran mampu meningkatkan imun tubuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi