Suara.com - Masyarakat Adat bertahan hidup di tengah virus Covid-19 yang terus masuk ke wilayah adat mereka karena kegagalan pemerintah mengendalikan pandemi.
Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi mengatakan sejak awal pandemi hingga Mei 2021 masyarakat adat membatasi diri dengan dunia luar dan terus mengumpulkan makanan agar kuat bertahan.
"Syukurlah masih cukup makanannya bahkan masih bisa berbagi dengan yang berkekurangan, banyak juga wilayah adat yang tergantung dengan ramuan tradisional, ngapain beli vitamin kalau kita sendiri punya vitamin, saat ini adalah kebangkitan kembali menguatnya sistem kesehatan masyarakat adat, jadi ketidakhadiran negara berguna juga dalam situasi krisis," kata Rukka dalam diskusi virtual, Rabu (8/9/2021).
Masyarakat adat pun kerap melakukan ritual sesuai dengan kepercayaannya untuk menangkal wabah, seperti ritual Baangko yang dilakukan Masyarakat Adat Dayak Simpang’k di Kalimantan Barat. Namun, ketika Indonesia diserang varian delta, virus akhirnya tembus masuk ke wilayah adat, banyak masyarakat adat yang sakit dan kesulitan mendapatkan pertolongan medis.
"Pelayanan sangat kurang, bahkan setelah varian delta ini ada banyak sekali teman-teman yang hanya mendapatkan parasetamol dan amoxicillin, itu sangat jauh berkurang, itu orang bisa sembuh dan mati juga, obat virus seperti avigan dan lain-lain itu tidak ada di daerah," jelasnya.
Minimnya testing dan tracing dari pemerintah juga menjadi masalah banyaknya orang dengan gejala Covid-19 di wilayah adat yang tidak terdeteksi, sehingga pendataan menjadi kacau.
"Dalam situasi ini, mau tidak mau, masyarakat adat akan mencari apa yang ada di kampungnya, bahkan di Meratus itu mereka makan buah Limpasu dengan Kecombrang, itu dimakan terus sampai sembuh," ungkap Rukka.
Terkait vaksinasi Covid-19, Rukka meminta pemerintah untuk datang jemput bola membawa vaksin ke wilayah adat karena masyarakat adat kesulitan akses jika harus berangkat ke kota mencari vaksin.
"Negara ini punya sekian ratus motor dan mobil offroad, banyak kapal, kalau perlu kapal tempur itu gunakan, helikopter yang selama ini dipakai untuk membom ladang tradisional, sekali ini gunakanlah untuk membawa vaksin," tegasnya.
Baca Juga: WHO Ungkap Penyebab Negara Miskin Sulit Dapat Pasokan Vaksin Covid-19
Deputi I Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Eustobio Rero Renggi juga bercerita semenjak keran investasi dibuka melalui UU Cipta Kerja Omnibus Law, banyak pekerja perkebunan, pertambangan, dan sebagainya yang masuk ke wilayah adat sehingga menulari mereka.
"Kebijakan masuknya investasi pertambangan dan perkebunan ke wilayah adat itu mendatangkan orang luar yang sebenarnya mereka membawa virus ke dalam, itu sangat berdampak," kata Eustobio.
Meski belum terdata secara rinci jumlah masyarakat adat yang positif Covid-19, dia menyebutkan sejumlah daerah pedalaman sudah ada kasus Covid-19.
Dia memastikan bahwa mobilitas masyarakat adat terutama yang tinggal di pedalaman selalu berkegiatan di dalam wilayah adat karena mereka hidup dari alam tidak perlu keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Oleh sebab itu dia meminta pemerintah untuk mempercepat dan mempermudah vaksinasi bagi masyarakat adat yang terancam, mereka sulit mengakses kesehatan ketika terpapar Covid-19.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Benarkah Demo Mahasiswa Ditunggangi? Ini Alasan Mengapa PDIP Dicurigai
-
Wamensos Apresiasi Dukungan ESQ Group untuk Pendidikan dan Karier Siswa Sekolah Rakyat
-
Sekolah Rakyat Ubah Jalan Hidup Aldo, Mantan Tukang Las Kini Punya Impian ke Negeri Sakura
-
Bupati Kediri Apresiasi Capaian Siswa Sekolah Rakyat dalam Open House 2026
-
Rano Karno Janji Tuntaskan Banjir Abadi Joglo: Jalan Ambles Aja Kita Perbaiki
-
Washington D.C. Kalah, Jakarta Masuk Peringkat 53 Kota Terbaik Dunia
-
Gaya Dasco Hadapi Aksi Mahasiswa Dipuji, Peneliti: Dobrak Eksklusivitas Senayan
-
Polisi Tangkap 4 Terduga Pelaku Terkait Tewasnya Dua Pria di Saluran Air Bekasi
-
Rano Karno Ajak Generasi Muda Rawat Sejarah dan Hidupkan Nilai Kebudayaan Bangsa
-
Rano Karno: Indonesia Saat Ini Butuh Keberanian Bung Karno