Namun, setelah negosiasi dari rekan-rekan di Jerman, Ahmed dilepaskan. Dia berhasil melintasi perbatasan dan terus ke Islamabad.
Begitu kelompok koresponden DW tiba di sana, proses untuk menjamin prioritas penerbitan visa butuh waktu beberapa minggu, sebelum penerbangan dapat membawa mereka ke Jerman.
Peran Kementerian Luar Negeri Jerman, kedutaan besar, dan duta besar Jerman di Pakistan sangat krusial bagi keberhasilan kelompok tersebut mencapai Jerman secara legal dan aman.
Wartawan dalam ancaman bahaya
Seorang koresponden yang telah bekerja untuk DW selama 3 tahun, Mohammad dari etnis Hazara Afganistan, juga berada dalam penerbangan keluar dari Islamabad itu bersama istri dan tiga putrinya.
Hazara adalah kelompok etnis minoritas di Afganistan tengah. Mohammad menceritakan bagaimana di provinsi asalnya Daykundi, Taliban merampas lahan pertanian dan tanah rakyat, memaksa mereka meninggalkan rumah dan properti di sana.
"Taliban mengatakan itu milik mereka sekarang," kata dia.
Wartawan yang berasal dari etnis minoritas tertentu, seperti Hazara, Tajik, dan Uzbekistan, berada dalam bahaya karena menjadi sasaran khusus oleh Taliban di Afghanistan, seperti juga wartawan perempuan.
Rumah empat koresponden DW, termasuk Ahmed, juga menjadi sasaran gerudukan Taliban setelah mereka berhasil pergi.
Baca Juga: Taliban Keluarkan Kebijakan yang Melarang Tukang Cukur di Provinsi Helmand
Sebelumnya pada bulan September, jurnalis Afganistan Ahmad Wahid Payman menjelaskan kepada DW bagaimana kebebasan pers pada dasarnya telah dilarang sejak Taliban mengambil alih kekuasaan.
Kehidupan baru di Jerman
Kedatangan mereka di Jerman sangat emosional. "Dalam beberapa bulan terakhir kami sudah cukup menangis," kata seorang jurnalis DW yang kini sudah berada di Jerman, bersama saudara kandung dan ayahnya yang sudah lanjut usia.
Semua koresponden Afganistan akan melanjutkan tugas mereka di redaksi DW di Bonn, Jerman, dan akomodasinya telah diatur, bekerja sama dengan otoritas lokal di kota Bonn dan Köln.
Pemimpin redaksi DW Manuela Kasper-Claridge mengatakan: "Sungguh melegakan bahwa rekan-rekan kami dan keluarga mereka akhirnya tiba dengan selamat di Jerman dan dapat melanjutkan pekerjaan mereka sekarang dari kantor pusat kami di Bonn."
Direktur Jenderal DW Peter Limbourg berterima kasih kepada pemerintah Jerman atas dukungan mereka untuk evakuasi, tetapi melihat perlunya tindakan lebih lanjut.
"Situasi keamanan memburuk sehingga sangat penting untuk melakukan evakuasi personel DW dan keluarga mereka dari Afganistan," katanya.
Saat ini dua koresponden DW masih berada di Afganistan bersama keluarga mereka, dan satu keluarga karyawan yang sudah berada di Jerman.
Peluang untuk evakuasi menjadi lebih kecil karena Taliban terus mengonsolidasikan kekuasaan.
Terlebih lagi, Taliban seringkali tidak membedakan antara jurnalis dan anggota keluarganya.
Tingkat ancaman bagi jurnalis dan keluarganya cukup besar, dan terus meningkat setiap saat. (pkp/as )
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Pelajar Palembang Viral Usai Pamer Revolver saat Konvoi, Ternyata Senpira Dibeli dari Facebook
-
Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi
-
Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga
-
Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?
-
Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita
-
Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor
-
Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat
-
Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink
-
Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan
-
Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN