"Ketika rasa kesemutan muncul membuat saya akan sulit melakukan pergerakan," katanya.
"Itulah makanya kalau saya harus mengendarai ke tempat kerja, melakukan pekerjaan selama delapan jam sehari, lima hari seminggu, maka semuanya akan sulit dilakukan."
Ruang kerja Samantha di rumahnya yang dibuat dengan bantuan dari The MS Society, berisi satu kursi dengan sandaran punggung, bantal untuk menopang kaki kanannya, dan ruang untuk bisa melakukan peregangan, dan juga cukup ruangan untuk anjing yang membantunya Boston.
"Saya bisa bergerak melakukan latihan fisik tanpa harus khawatir mengganggu orang lain," katanya.
Samantha mengatakan bisa kembali bekerja juga membuat kepercayaan dirinya meningkat.
"Saya tidak merasa tidak berguna, karena sebelumnya saya sudah tidak bekerja begitu lama, dan memiliki otak yang seperti berkabut karena MS, membuat saya berpikir bahwa saya tidak bisa lagi belajar hal baru."
"Namun ternyata saya dengan cepat bisa belajar lagi.
"Kalau saya tidak tahu sesuatu, saya bisa dengan cepat bertanya di Teams kepada yang lain."
Pengajar masalah disabilitas diFlinders University di Adelaide Dr June Alexander mengatakanpandemi menyebabkan banyak dari mereka yang difabel kehilangan pekerjaan di sektor yang memang paling terpengaruh seperti pariwisatadan layanan jasa di industri minuman dan makanan.
Baca Juga: Viral Terduga Pemerkosa Wanita Difabel di Condet Digerebek Massa, Begini Versi Pak RT
Namun pandemi juga membuka kesempatan bagi yang lain.
"Dan itu berkenaan dengan jam kerja yang luwes dan bisa bekerja dari rumah, sehingga ini merupakan hal yang menguntungkan bagi mereka yang difabel," katanya.
Dr Alexander mengatakan mereka yang mengalami masalah kesehatan sering kali mengalami rasa sakit atau kelelahan di jam yang berbeda setiap hari.
"Jadi bisa bekerja dari rumah membuat mereka bisa mengambil waktu istirahat sendiri dan kemudian bekerja lagi, jadi jam kerja yang fleksibel sangat penting bagi mereka," katanya.
Laporan dari tahun 2020 yang dibuat olehAustralian Institute of Health and Welfare menunjukkan ada48 persen mereka yang difabel yang bekerja, sementara yang tidak difabel 80 persen bisa bekerja.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa 93 persen mereka yang difabel yang tidak bekerja akan mengalami kesulitan untuk menemukan pekerjaan.
Dr Alexander mengatakan dia sudah mendengar 'ratusan pengalaman bagus' dari mereka yang difabel 'yang kehidupannya berubah setelah mendapat kerja".
"Dan itulah sebabnya saya bekerja di bidan gin, karena memang bisa mengubah hidup seseorang," katanya.
Dr Alexander mengatakan ada begitu banyak keuntungan bagi seseorang yang bisa bekerja.
"Dalam soal kesehatan mental kita tahu bahwa lebih baik bagi semua orang untuk bekerja, karena meningkatkan kepercayaan diri," katanya.
"Juga jelasmeningkatkan kemampuan kita untuk melakukan kegiatan dan membeli sesuatu yang kita suka, jadipenting sekali untuk memiliki pekerjaan.
"Dalam budaya kita juga, hal pertama yang ditanya kalau kita bertemu orang adalah apa pekerjaan anda?"
"
"Jadi bisa mengatakan apa yang kita lakukan dan bangga dengan hal tersebut, akan sangat berharga bagi mereka yang difabel dan tentu yang lain juga."
"Dengan 'lockdown' di Australia sudah mulai dilonggarkan, banyak yang masih berharap cara kerja fleksibel ini masih akan terus berlanjut.
"Bisa bekerja lagi, saya sangat bersyukur mereka memberi saya kesempatan dan percaya dengan saya," kata Samantha.
"Senang sekali bisa bekerja, bisa merasa berguna lagi."
Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News
Berita Terkait
-
JETOUR Berikan Garansi Mesin Tanpa Batas Kilometer di GIIAS 2026
-
Hanya 20 Unit Terios Special Edition dan New Sigra Resmi Meluncur di GIIAS 2026
-
Toyota Pamerkan Land Cruiser Hybrid dan GAZOO Racing Terbaru di GIIAS 2026
-
Shepreneur Learning Series Bekali Perempuan Wirausaha Soal Keamanan Data
-
Bank BSN Salurkan KPR Subsidi Rp850 Miliar kepada 5.100 Nasabah
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Inti Solar Andalkan Teknologi Vacuum Tube dan Heat Pump, Inovasi Pemanas Air Hemat Energi
-
Mengenang Nasirun, Pelukis Legendaris Indonesia yang Berpulang di Usia 60 Tahun
-
Botox Natural Kian Diminati, Rahasia Contouring Wajah yang Tetap Mempertahankan Karakter Alami
-
Saat Limbah Denim Bertransformasi Jadi Karya Couture, Ini Pesona Koleksi Terbaru DARIKU INDONESIA
-
Salinan Film Fortitude Raib, Netflix Dinilai Lalai hingga Digugat $105 Juta
-
GAC Beberkan Filosofi di Balik Pengembangan Mobil Listrik AION V
-
Review Film Colors of Evil: Black, Kematian dan Misteri Kota yang Bungkam!
-
Ini Tema dan Logo Hari Pramuka 14 Agustus 2026, Simak Makna di Baliknya
-
Benarkah Feng Shui Rumah Tusuk Sate Bawa Sial? Simak Fakta dan Cara Menyiasatinya
-
Film Spider-Man: Brand New Day Cetak Rekor Preview Tertinggi Sepanjang Masa