Suara.com - Di satu sisi, diperkirakan 100.000 tentara Rusia sudah dikerahkan ke perbatasan Ukraina. Di sisi lain, Amerika Serikat bersama beberapa negara NATO mulai mengirimkan jutaan bantuan militer.
Tapi apa pendapat orang Ukraina mengenai hal itu?
Pekan ini sebuah video viral di Ukraina memperlihatkan seorang pria paruh baya menyatakan kesiapannya untuk membela keluarga dan negaranya dari potensi invasi Rusia. Dia terlihat tulus.
"Saya akan angkat senjata dan pergi berperang. Saya siap," katanya kepada kru TV dari saluran berita TV berbahasa Rusia, Current Time.
Dia mengatakan rencana daruratnya sudah siap.
Setelah membawa keluarganya ke rumah musim panas mereka, dia akan kembali ke kota Kharkiv dan mengangkat senjata.
Baca juga:
- Apa itu NATO dan mengapa Putin dan Rusia tidak mempercayainya?
- Siapkah Ukraina hadapi ancaman invasi Rusia?
- Para pemimpin Barat cemas, apakah Rusia berencana serbu Ukraina?
Kharkiv terletak kurang dari satu jam perjalanan dari perbatasan Ukraina-Rusia. Ribuan tentara Rusia saat ini ditempatkan tepat di perbatasan kedua negara.
Banyak pengamat, termasuk Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, memperingatkan kemungkinan ancaman terhadap kota Kharkiv yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia.
Namun, terlepas dari kekhawatiran banyak pengamat, orang-orang tetap tenang.
"Sejauh ini saya tidak melihat tanda-tanda kepanikan," kata Antonina Baranova, 27 tahun, seorang dosen universitas di Kharkiv. "Tidak ada antrean panjang di supermarket, tidak ada orang-orang yang menimbun makanan."
Presiden Zelensky sendiri, beberapa hari sebelum membunyikan alarm bahaya yang mengancam kota, juga menyerukan agar masyarakat tetap tenang.
"Tarik napas. Tenang. Tidak perlu memborong soba dan korek api," kata presiden dalam sambutannya.
Soba, gandum pokok Ukraina, korek api, air, pakaian, dan bahan bakar dilaporkan mulai ditimbun jika konflik tiba-tiba pecah.
Namun bagi mereka yang tinggal di Ukraina timur, di mana selama delapan tahun terakhir separatis yang didukung Rusia terus menguasai sebagian besar wilayah Luhansk dan Donetsk, menyaksikan rak-rak supermarket yang kosong dan krisis bahan bakar bukanlah hal baru.
Kekerasan di timur
Diperkirakan 14.000 orang tewas dalam konflik itu, meskipun perjanjian damai telah disepakati pada 2015.
Pekerja sosial Olena Beliayeva, sekarang berusia 43 tahun, menjelaskan bahwa dia harus berlindung di ruang bawah tanah bersama kedua anaknya ketika pemberontak pro-Rusia terus menyerang kota kelahirannya di Svitlodarsk sepanjang 2014 sampai 2015.
Sekarang, kata dia, kota ini kembali bersiap menghadapi situasi yang lebih buruk.
"Saya tahu tempat penampungan lain sedang didirikan di ruang bawah tanah taman kanak-kanak setempat," katanya.
Bagi mereka yang tinggal di timur seperti Olena, ini bukan masalah kapan atau apakah Rusia akan menyerang. Ini masalah apakah konflik saat ini akan meningkat lebih serius.
"Kami sekarang tahu, seperti pada 2014 dan 2015 ketika perang Donbas pecah, kami harus selalu menyiapkan dokumen perjalanan dan uang sewa."
Rusia membantah merencanakan invasi, tetapi negara itu telah merebut wilayah Ukraina dan dengan perkiraan 100.000 tentara dikerahkan di dekat perbatasan, dapat dimengerti bahwa orang-orang gelisah.
Bahkan warga minoritas Ukraina yang pro-Rusia, banyak dari mereka yang berusia lanjut dan yang bernostalgia dengan bekas Uni Soviet, tidak menginginkan eskalasi kekerasan setelah delapan tahun konflik.
Kegelisahan di ibu kota
Jauh dari penembakan dan kondisi sulit di tempat perlindungan, bagi orang yang tinggal di ibu kota Kiev, banyak yang mengatakan seperti hidup dengan kepribadian ganda.
Satu menit yang lalu Anda mencari tempat perlindungan serangan udara terdekat di internet, tapi menit berikutnya Anda hidup seperti biasa dengan pembeli di jalan-jalan dan bar yang penuh pada Jumat malam.
Tentu saja ada ketakutan baru, tetapi setelah hampir satu dekade konflik terus-menerus di timur, banyak orang Ukraina mengatakan bahwa mereka telah belajar untuk hidup dengan keamanan yang minim.
"Kami orang Ukraina mungkin adalah bangsa yang paling keras di Eropa karena ancaman terus-menerus dari Rusia di perbatasan kami," kata Fedir Balandin, 44 tahun, seorang pengusaha dari Kiev.
Dia memiliki salah satu bar tertua di pusat kota serta agen perjalanan.
Dia menggambarkan pikirannya sudah "dikondisikan untuk bersiap" terhadap apapun yang akan terjadi selanjutnya, entah menyumbangkan uang atau mendukung tentara.
Seperti semua teman dan pelanggannya, kata dia, mereka siap membela negara.
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Bantah Tudingan Zalim, Polisi Ungkap Perlakuan ke Roy Suryo dan dr Tifa di Tahanan
-
Bukan Soal Nafkah, Ini Alasan Utama Ruben Onsu Laporkan Masalah Anak ke KPAI
-
Buka Pasar Murah dan Pameran UMKM di Papua, Wamendagri Ribka Dorong Penguatan Ekonomi Kreatif
-
Listrik Jawa Byar Pet, Bos PLN Minta Maaf Sebelum Menghadap Prabowo di Istana
-
Wamendagri Wiyagus Apresiasi Pengobatan Gratis dan Donor Darah oleh Pemprov Papua
-
Dor Dor! Penembakan Sadis di Sekolah SMA, 3 Siswa Tewas Mengenaskan di Filipina
-
Fokus Urus Perut Rakyat, AHY Ingatkan 2029 Masih Lama Saat Ditanya Isu Prabowo-Gibran 2 Periode
-
Disegel Kejagung, Nasib Ribuan Unit Motor Listrik MBG Menunggu Keputusan BGN
-
ITDC Dilaporkan ke KPK, Diduga Rugikan Negara Miliaran di Proyek Mandalika
-
Karangan Bunga Hitam Putih Dedi Mulyadi Jadi Sorotan di Balai Kota