Suara.com - Aksi cewek yang memesan layangan ojek online atau ojol baru-baru ini mengejutkan warganet. Bagaimana tidak, ia memesan ojol untuk mengusir kodok.
Cerita ini dibagikan oleh akun Instagram @/lambe_ojol. Hingga berita ini dipublikasikan, kisah mengenai peristiwa itu telah mendapatkan 240 tanda suka.
"Kodok," tulis akun ini dengan emoji ngakak sebagai keterangan Instagram seperti dikutip Suara.com, Jumat (11/2/2022).
Akun ini membagikan tangkapan layar percakapan antara pelanggan dengan driver ojol. Adapun tangkapan layar tersebut diduga dikirimkan dari driver karena dinilai lucu.
Dalam tangkapan layar, cewek itu menjelaskan alasannya memesan layanan ojol bukan sebagai penumpang. Ia mengatakan butuh bantuan driver ojol untuk mengusir seekor kodok.
Sang cewek mengungkap ia menemukan kodok di dalam kamar kosnya. Hal tersebut membuatnya panik dan ketakutan karena ia tidak berani mengusir kodok tersebut.
"Mas saya mau minta tolong ngusir kodok di kamar saya bisa gak mas?" tanya sang cewek dengan emoji menangis.
Meski demikian, cewek ini bertanya dengan sopan ke driver ojol. Ia juga siap membatalkan jika memang sang driver tidak bisa membantu mengusir kodok.
"Kalau gak bisa cancel aja gak papa mas," lanjut sang cewek.
Sang driver lantas hanya bisa mengirimkan emoji tepuk jidat. Ia terheran-heran dengan permintaan dari pelanggannya yang anti mainstream tersebut.
Driver ini juga penasaran kenapa sang cewek sampai repot-repot memesan layanan ojol, alih-alih meminta tolong dari orang di sekitarnya.
"Ada-ada aja mbak. Di situ nggak ada orang kak?" tanya sang driver ojol.
Cewek ini kemudian mengungkapkan dirinya benar-benar ketakutan dengan kodok tersebut. Ia juga menjelaskan teman-teman kosnya sudah tidur sehingga merasa sungkan jika membangunkan.
"Saya takut mas soalnya. Ada mas temen kos saya, tapi sudah tidur," jelas sang cewek.
Belum diketahui apakah driver ojol itu akhirnya menerima pesanan pelanggan untuk mengusir kodok atau tidak. Pasalnya, percakapan yang ditunjukkan hanya sampai penjelasan sang cewek mengenai teman kos yang tidur.
Berita Terkait
-
Heboh! Puan Maharani Curhat Tak Disambut Salah Satu Gubernur saat Kunjungan, Warganet Ramai Memuji Kepala Daerah Itu
-
Viral Gangster Membabi Buta Serang Warga di Cikupa Tangerang, Saksi Mata: Nyerang Sampai Depan Rumah
-
Polisi Tangkap Pria Berseragam Ormas Diduga Pungli Penjual Martabak
-
Viral Pria Beli Bubur Ayam dengan Permintaan Nyeleneh, Sukses Bikin Pedagang Heran
-
Demi Nikahi Pria Seumuran Anaknya, Wanita Lansia Ini Nekat Bayar 1 Miliar untuk Dapat Restu Camer
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
HUT RI ke-81, Tradisi Panjat Pinang Kembali Meriahkan Kalimalang
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?