Suara.com - Direktur PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Craig Mokhiber mundur dari jabatannya usai menyebut Amerika Serikat, Inggris dan sebagian besar negara Eropa terlibat dalam serangan mengerikan Israel terhadap penduduk di Gaza. Keputusan pengunduran diri Craig Mokhiber dilatarbelakangi atas dugaan PBB yang dianggap gagal menghentikan serangan-serangan Israel terhadap para penduduk di jalur Gaza.
Craig Mokhiber menulis surat pengunduran dirinya pada Komisaris Tinggi PBB di Jenewa Volker Turk pada 28 Oktober 2023. Lantas siapa sebenarnya Craig Mokhiber? Simak penjelasan berikut ini.
Profil Craig Mokhiber
Craig Mokhiber adalah Direktur di Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) yang terletak di New York, Amerika Serikat. Dia telah bekerja sebagai pengacara dan spesialis dalam bidang hukum, kebijakan, dan metodologi HAM internasional di PBB sejak tahun 1992.
Banyak sekali peran Craig Mokhiber selama bergabung sebagai salah satu karyawan PBB. Pada tahun 1990-an, dia pernah memimpin pengembangan karya mengenai pendekatan berbasis HAM.
Craig Mokhiber juga pernah bekerja sebagai Penasihat Senior HAM PBB di Palestina dan Afghanistan. Akan tetapi, kariernya tak berjalan mulus begitu saja.
Sebagai Direktur HAM PBB, tak jarang Craig Mokhiber mendapat kecaman dari kelompok pro-Israel karena komentar pedasnya di media sosial. Dia sempat dikritik karena memberi dukungan terhadap gerakan boikot, divestasi, sanksi, serta menuduh Israel melakukan apartheid, tuduhan yang dia ulangi dalam surat terakhirnya.
Mundur Dari PBB
Kabar pengunduran diri Craig Mokhiber dari Direktur PBB untuk HAM menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bahkan beredar surat pengunduran diri Craig Mokhiber yang diunggah oleh akun X @Raminho .
Dalam unggahan itu disebutkan bahwa Craig Mokhiber mengundurkan diri dari jabatannya sebagai protes dari PBB mengenai isu-isu HAM di Palestina.
Surat pengunduran diri Craig Mokhiber ditujukan kepada Volker Turk selaku Komisaris Tinggi HAM. Dalam suratnya, Craig Mokhiber menjelaskan bahwa dunia telah mengalami penderitaan yang sangat besar. Dia mengatakan bahwa organisasinya sudah tak mampu untuk menangani genosida yang terjadi di Palestina.
Baca Juga: Aksi Nyata, Aldi Taher Transfer Rp5 Juta Buat Makan Anak-Anak Palestina
Craig Mokhiber mengatakan bahwa tindakan Israel di jalur Gaza adalah genosida. Pejabat tinggi itu mengakui bahwa kata tersebut seringkali menjadi sasaran pelecehan politik.
Dalam surat, Craig Mokhiber menulis bahwa dia telah gagal dalam memenuhi tugas untuk mencegah kekejaman massal, perlindungan kelompok rentan dan akuntabilitas. Sama halnya dengan pembunuhan dan penganiayaan yang terjadi berturut-turut di Palestina.
Craig Mokhiber merasa gagal apalagi dia sudah berpengalaman di bidang HAM selama lebih dari tiga dekade. Namun, permasalahan antara Israel dan Palestina sudah berlangsung selama beberapa dekade dan dia pun merasa gagal mengatasinya.
Craig Mokhiber mengatakan bahwa di Palestina, rumah warga sipil, sekolah, gereja, masjid, rumah sakit, semua diserang tak ada habis-habisnya. Dalam surat itu, Craig Mokhiber juga menjelaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan sebagian besar negara-negara di Eropa sepenuhnya terlibat dalam serangan tersebut. Mereka secara aktif memberikan senjata, dukungan ekonomi, intelijen, hingga memberi kedok politik dan diplomatik atas Israel.
Terlihat juga dalam surat, Craig Mokhiber menuliskan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, bagian-bagian penting dari PBB telah menyerah pada kekuatan Amerika Serikat. Tak hanya itu, bahwa PBB juga takut akan lobi Israel dan meninggalkan beberapa prinsipnya.
Craig Mokhiber mempercayai bahwa dahulu PBB memiliki prinsip dan otoritas yang berakar pada integritas badan tersebut. Namun, tampaknya hal itu sudah hilang selama bertahun-tahun. Untuk mengatasi dan memperbaiki hal ini, PBB harus belajar dari sikap prinsip yang diambil dari kota-kota seluruh dunia dalam beberapa hari terakhir, ketika banyak orang menentang genosida.
Berita Terkait
-
Aksi Nyata, Aldi Taher Transfer Rp5 Juta Buat Makan Anak-Anak Palestina
-
Terima Donasi Sampai Rp 2,7 Miliar, Teuku Wisnu Ternyata Kesulitan Salurkan Bantuan ke Palestina
-
Profil Ariel Sharon, Mantan PM Israel Tewas Tragis dengan Organ Membusuk
-
3 Surat Dalam Al Quran Ini Ceritakan soal Palestina dan Israel, Berikut Tafsirannya
-
10 Brand Fashion Ini Ternyata Dari Palestina, Ayo Borong!
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Bocor! China Bikin Peta Laut hingga Indonesia untuk Hadapi AS di Perang Dunia III
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
Terkini
-
Bocor! China Bikin Peta Laut hingga Indonesia untuk Hadapi AS di Perang Dunia III
-
Dihujani Drone Rusia di Siang Bolong, Situs Warisan Dunia UNESCO di Lviv Hancur
-
Arab Saudi Marah ke Iran, Singgung Serangan Rudal Kiamat ke Negara Islam
-
Halalbihalal di Balai Kota, Pramono Anung: ASN Jakarta Masih WFH 2 Hari Lagi
-
Tak Jauh dari Indonesia, Negara Ini Mulai Irit BBM Hingga Nyatakan Darurat Energi
-
2000 Tentara AS Dikirim Donald Trump ke Timur Tengah, Bersiap Masuki Iran
-
Penjelasan Shell terkait Stok BBM yang Masih Kosong di Seluruh SPBU
-
Serangan Balik, Iran Hujan Rudal Israel Hingga 12 Orang Tewas
-
Tak Sekadar Halalbihalal di Rumah SBY, Puri Cikeas jadi Saksi Cinta Lama Anies-AHY Bersemu Kembali?
-
Iran Makin Terdesak, Negara Teluk Mulai Izinkan Militer Amerika Serikat Gunakan Pangkalan Udara