Suara.com - Ikatan Mahasiswa dan Masyarakat Papua (IMMAPA) serta Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Bali (AMP) menggelar aksi protes menolak program transmigrasi dan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dicanangkan pemerintah ke wilayah Papua.
Karel, juru bicara aksi ini, mengungkapkan penolakan keras terhadap kebijakan tersebut, menyatakan bahwa program ini berpotensi mengancam keberlangsungan hidup Orang Asli Papua (OAP).
Menurut Karel, kebijakan transmigrasi yang kembali diprioritaskan oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming dianggap tidak sesuai dengan kondisi di Papua.
"Program transmigrasi ini bertentangan dengan UU Otonomi Khusus, terutama Pasal 61 ayat 3 UU Nomor 21 Tahun 2001 yang menyatakan bahwa transmigrasi hanya bisa dilakukan dengan persetujuan gubernur dan peraturan daerah," ujarnya dalam pernyataan yang diterima oleh Suara.com, Sabtu (9/11/2024) malam.
Karel juga menyoroti sejarah panjang transmigrasi di Papua, yang menurutnya dimulai sejak masa kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Program transmigrasi dinilai sebagai bentuk kolonialisasi yang memperburuk ketidakadilan bagi penduduk asli Papua.
Ia menegaskan, program ini tidak hanya mengancam kesejahteraan ekonomi, namun juga eksistensi sosial budaya dan hak atas tanah adat orang Papua.
Lebih lanjut, aksi ini juga menyampaikan penolakan atas proyek strategis di Papua, seperti program cetak sawah dan penanaman tebu di Merauke, yang menurut para demonstran hanya menguntungkan pihak luar dan mengorbankan tanah adat milik penduduk asli.
"Kami meminta pemerintah untuk segera menghentikan segala bentuk transmigrasi, menarik militer, dan menghentikan pembangunan infrastruktur militer yang hanya memperburuk situasi keamanan dan kemanusiaan di Papua," tegas Frans Murib, koordinator lapangan.
Para demonstran juga menyerukan pembukaan akses jurnalis ke Papua dan memberikan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua sebagai solusi demokratis. Mereka berharap agar kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dapat lebih memerhatikan hak-hak dan kepentingan masyarakat asli Papua.
Baca Juga: Dari Puncak Jaya ke Papua Tengah: Deinas Geley Bawa Resep Damai di Pilkada
Kontributor: Elias Douw
Berita Terkait
-
Dari Puncak Jaya ke Papua Tengah: Deinas Geley Bawa Resep Damai di Pilkada
-
Debat Pilgub Papua Tengah, Transmigrasi dan PSN Jadi Sorotan Para Kandidat Gubernur
-
Debat Pamungkas Pilgub Papua Tengah, Lima Isu Krusial Jadi Sorotan
-
Live Report! Debat Kedua Pilkada Papua Tengah
-
Pengembangan Kasus Lukas Enembe, KPK Geledah Kantor Setda Papua
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Gus Ipul Serukan Gerakan Peduli Tetangga, Perkuat Data Lindungi Warga Rentan
-
Sudah Tiba di Jakarta, PM Australia Segera Bertemu Prabowo di Istana
-
Gus Ipul dan Kepala Daerah Komitmen Buka 8 Sekolah Rakyat Baru
-
RS Tolak Pasien karena JKN Nonaktif, Mensos Gus Ipul: Mestinya Disanksi BPJS, Tutup Rumah Sakitnya
-
Mensos Gus Ipul: RS Tak Boleh Tolak Pasien BPJS Penerima Bantuan Iuran
-
Wamendagri Wiyagus Lepas Praja IPDN Gelombang II, Percepat Pemulihan Pascabencana Aceh Tamiang
-
Kasatgas PRR Ingatkan Pemda yang Lambat Kirim Data Penerima Bantuan Bencana
-
Satgas PRR Resmikan Huntara di Tapanuli Selatan dan Tujuh Kabupaten Lain Secara Serempak
-
Kasus Tragis Anak di Ngada NTT, Pakar Sebut Kegagalan Sistem Deteksi Dini dan Layanan Sosial
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!