Suara.com - Ketika banjir dan longsor surut, yang tersisa bukan hanya lumpur dan jalan terputus. Ada sunyi panjang yang harus dihadapi warga: sunyi karena akses terhambat, aktivitas terhenti, dan rasa aman yang ikut terkikis. Di tengah situasi itu, jalan bukan lagi sekadar bentangan aspal, melainkan urat nadi kehidupan yang harus segera dipulihkan.
Di sanalah para petugas memilih tinggal lebih lama. Mereka tidak pulang ketika lumpur masih menempel di sepatu, ketika alat berat berhenti karena hujan turun kembali. Mereka bertahan, menjaga agar harapan tidak ikut terputus.
Salah satunya Dedy Saputra, Pengawas Lapangan PPK 1.5 BPJN Aceh, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Hampir satu bulan ia berada di Aceh Tamiang, menyusuri ruas jalan terdampak, memastikan setiap titik bisa kembali dilewati.
Baginya, membuka akses jalan berarti membuka kembali kehidupan. Truk sembako bisa masuk, anak-anak pesantren bisa kembali belajar, dan warga tidak lagi merasa terisolasi.
“Supaya pengiriman sembako bisa lancar, santri-santri bisa kembali belajar seperti biasa,” ujarnya, Sabtu, 27 Desember 2025.
Hari-hari Dedy di lokasi bencana berjalan tanpa jadwal pasti. Medan berlumpur, cuaca berubah cepat, dan tempat istirahat seadanya menjadi bagian dari rutinitas. Tidur nyenyak adalah kemewahan yang tidak selalu tersedia.
Namun di balik kelelahan itu, tidak ada keluhan berlebihan. Yang ada justru kesadaran bahwa pekerjaannya menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat.
“Sebagai abdi negara tidak ada kata capek. Tidurnya kadang enak, kadang tidak enak. Kadang-kadang kita tidur di bawah lumpur,” katanya, setengah bercanda, setengah pasrah.
Ada alasan mengapa Dedy memilih bertahan lebih lama di lapangan. Ia bukan orang asing dengan bencana. Tsunami Aceh 2004 merenggut ayah, ibu, dan dua adiknya. Luka itu tidak pernah benar-benar hilang.
Baca Juga: Kado Kemanusiaan dari Bundaran HI: Warga Jakarta Donasi Rp3,1 Miliar untuk Korban Bencana di Sumatra
“Saya pernah jadi korban tsunami. Bapak ibu, dua orang adik dibawa tsunami, sampai sekarang belum ditemukan,” tuturnya lirih.
Justru dari kehilangan itulah empatinya tumbuh. Ia memahami betul perasaan warga yang kini berdiri di antara puing dan ketidakpastian.
“Itulah yang menggerakkan saya untuk membantu. Harus tempur di lapangan walaupun keluarga ditinggalkan sementara,” katanya.
Rindu yang Disimpan, Tugas yang Didahulukan
Di balik helm proyek dan rompi keselamatan, Dedy adalah seorang ayah dan suami. Rindu kepada keluarga ia simpan rapat. Komunikasi dengan istri dan anak hanya bisa dilakukan ketika listrik menyala dan jaringan memungkinkan.
“Kalau sudah ada sinyal, baru bisa video call. Anak manggil papa, rasanya terenyuh sendiri,” ungkapnya.
Namun keluarganya memahami. Sejak awal, mereka tahu hidup bersama abdi negara berarti siap berpisah demi tugas.
Berita Terkait
-
Semua Gardu Induk Aceh Bertegangan, PLN Kejar Pemulihan 180 Desa Masih Padam
-
Prabowo: Bantuan Bencana Dibuka Seluas-luasnya, Tapi Harus Transparan dan Tanpa Kepentingan
-
Mobilitas Warga Pulih, Jembatan Sementara Lawe Mengkudu Resmi Difungsikan
-
Palak Pedagang Pakai Sajam, Dua Preman 'Penguasa' BKT Diringkus Polisi
-
Tak Sekadar Bisnis, Wook Group Dorong Pembangunan Sosial di Daerah Rawan Bencana
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Apresiasi Jurnalistik Shopee 2026 Dibuka: Dokumentasikan Kiprah UMKM di Era Baru Ekonomi Indonesia
-
Kemensos Jaring 700 Anak Jalanan dan Putus Sekolah untuk Masuk Sekolah Rakyat
-
Meutya Hafid Ungkap Modus Baru Penipuan, Pelaku Ngaku Anggota DPR lalu Minta Sumbangan
-
Amien Rais Ingatkan Prabowo: Hati-hati dengan 'All the President's Men' yang Bermental Bejat
-
Meutya Hafid Beberkan Hasil Pemberantasan Judol: 3,4 Juta Situs Ditutup, Ribuan Rekening Diblokir
-
Kecil Korban Bullying Besar Jadi Pembunuh Hamas, Ini Tampang Direktur Mossad Baru Roman Gofman
-
Kementerian P2MI Luncurkan Gerakan Nasional Migran Aman untuk Perkuat Pelindungan PMI
-
Prabowo Tambah Kekuatan Militer RI, 6 Jet Rafale hingga Rudal Meteor Diserahkan ke TNI
-
Ribuan Warga Menonton Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran, KDM: Berdampak Positif bagi Ekonomi
-
Jakarta Catat 6 Suspek Hantavirus, Aktivitas Bersih-Bersih Rumah Bisa Jadi Pemicu Paparan